Sender.co.id – Nanik Sudaryati Deyang resmi mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN). Pengunduran diri tersebut disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (22/7/2026) dengan alasan kesehatan, yakni untuk menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri.
Kabar tersebut dikonfirmasi oleh Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Kebijakan, Dirgayuza Setiawan. Ia menjelaskan bahwa Nanik telah berpamitan kepada Presiden sekaligus mengajukan pengunduran diri agar dapat fokus menjalani proses pengobatan.
"Hari ini Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung sekaligus mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional," ujar Dirgayuza Setiawan.
Meski menerima pengunduran diri tersebut, Presiden Prabowo Subianto dikabarkan tetap berharap Nanik dapat memberikan kontribusi bagi Badan Gizi Nasional setelah proses pengobatannya. Salah satu opsi yang tengah dipersiapkan adalah melibatkan Nanik dalam fungsi pengawasan melalui Dewan Pengawas BGN.
Nanik diketahui baru menjabat sebagai Kepala BGN sejak 8 Juni 2026, menggantikan Dadan Hindayana. Selama memimpin lembaga tersebut, ia berfokus pada penguatan tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan efektivitas distribusi, serta pengawasan pelaksanaan program di berbagai daerah.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah belum mengumumkan secara resmi pengganti Nanik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Namun, sejumlah nama mulai bermunculan dalam pemberitaan, termasuk Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, meski belum ada keputusan resmi dari Presiden.
Nanik S. Deyang baru dilantik sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026, menggantikan Dadan Hindayana. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Wakil Kepala BGN dan dikenal aktif mengawal implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Meski masa jabatannya terbilang singkat, Nanik disebut telah melakukan berbagai langkah pembenahan di internal BGN. Menurut keterangan Istana, selama sekitar satu setengah bulan memimpin lembaga tersebut, ia memulai reformasi tata kelola pelaksanaan MBG di berbagai daerah.
Melalui akun media sosial pribadinya, Nanik juga menjelaskan bahwa dirinya akan berangkat ke luar negeri untuk menjalani pengobatan sekaligus memperoleh second opinion atau pendapat medis kedua terkait penyakit jantung yang dideritanya.Nanik juga memberi isyarat bahwa sosok penggantinya telah dipersiapkan. Dalam pernyataannya, ia menyebut penggantinya sebagai "adik saya", tanpa menyebut nama secara langsung.
Sementara itu, sejumlah media nasional melaporkan bahwa Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menjadi salah satu nama yang santer dikabarkan akan mengisi posisi Kepala BGN. Namun, hingga Rabu (22/7), pemerintah belum mengumumkan secara resmi siapa yang akan ditunjuk sebagai pengganti Nanik. (wg)
Oleh: Susilawati, Akademisi Universitas Muhammadiyah Kalianda
Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pendidikan tidak hanya dituntut untuk bergerak cepat, tetapi juga tetap memiliki arah yang jelas. Inilah tantangan utama yang perlu kita refleksikan setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional: bagaimana menjaga agar pendidikan tidak kehilangan makna di tengah tuntutan kemajuan.
Pendidikan saat ini berada dalam pusaran disrupsi teknologi. Digitalisasi telah membuka akses belajar yang luas, bahkan tanpa batas ruang dan waktu. Informasi tersedia dengan mudah, dan kecerdasan buatan mulai masuk dalam proses pembelajaran. Di satu sisi, ini merupakan kemajuan yang patut diapresiasi.
Namun di sisi lain, kemajuan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh kualitas yang merata. Kesenjangan akses pendidikan masih menjadi persoalan nyata, termasuk di sejumlah daerah di Lampung. Infrastruktur yang belum merata, kualitas pembelajaran yang berbeda, serta keterbatasan sumber daya menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Jika dilihat dari indikator Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi, capaian Indonesia memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, angka tersebut juga menunjukkan bahwa tidak semua lulusan usia kuliah benar-benar melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Artinya, masih terdapat kesenjangan akses dan partisipasi yang perlu menjadi perhatian bersama, khususnya di daerah.
Selain itu, praktik pendidikan kita masih sering terjebak pada orientasi administratif—nilai, ijazah, dan formalitas—bukan pada pembentukan karakter dan kompetensi. Akibatnya, muncul fenomena generasi yang cepat dalam mengakses informasi, tetapi belum tentu mampu memahami dan mengolahnya secara kritis.
Dalam konteks ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara tetap relevan. Pendidikan adalah proses menuntun potensi manusia agar berkembang secara utuh. Artinya, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter dan kemerdekaan berpikir.
Sejalan dengan itu, KH Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah menegaskan pentingnya pendidikan yang berkemajuan. Ia memadukan ilmu agama dan ilmu umum, sekaligus menekankan bahwa ilmu harus diamalkan dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Gagasan tersebut menjadi sangat relevan hari ini, ketika pendidikan berisiko kehilangan substansi di tengah derasnya arus perubahan. Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.
Karena itu, pendidikan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab lembaga formal. Masyarakat perlu terlibat aktif dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat. Keluarga menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter, sementara lingkungan sosial harus mampu mendorong tumbuhnya nilai dan etika.
Peran pemerintah juga sangat menentukan. Pemerataan akses pendidikan harus terus diperkuat, terutama di daerah yang masih menghadapi keterbatasan.
Peningkatan kualitas guru dan tenaga pendidik menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu. Kebijakan pendidikan pun harus adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa kehilangan pijakan nilai.
Transformasi digital memang tidak terelakkan. Namun tanpa arah yang jelas, transformasi tersebut justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari tujuan utamanya.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa. Ia bukan sekadar program, tetapi fondasi peradaban.
Sebagai pendidik, tanggung jawab kita tidak berhenti pada proses pengajaran. Kita memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu berpikir kritis, berakhlak, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pada akhirnya, meneguhkan arah dan merawat makna pendidikan bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga pendidikan, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.(*)
Sender.co.id – Mantan Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah, resmi menjadi kuasa hukum mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, yang saat ini berstatus sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Penunjukan tersebut dilakukan setelah pengacara sebelumnya, Hotman Paris Hutapea, mengundurkan diri karena alasan kesehatan.
Febri Diansyah mengonfirmasi dirinya baru menerima surat kuasa sehari sebelum mendampingi Febrie Adriansyah menjalani pemeriksaan di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (24/7/2026).
"Saya baru ditunjuk sebagai advokat untuk Pak FA. Jadi ini proses pemeriksaan pertama yang saya dampingi. Surat kuasanya tertanggal kemarin," kata Febri Diansyah kepada wartawan.
Menurut Febri, pemeriksaan terhadap kliennya berlangsung sekitar 10 jam. Selama proses tersebut, Febrie Adriansyah menjawab seluruh pertanyaan penyidik secara kooperatif.
"Pak FA menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penyidik sesuai yang ia ketahui. Sejak awal beliau bersikap kooperatif dan menghormati proses penegakan hukum," ujar Febri.
Penunjukan Febri Diansyah menjadi sorotan publik mengingat dirinya pernah menjadi Juru Bicara KPK dan kini berprofesi sebagai advokat. Sebelumnya, ia juga pernah mendampingi sejumlah klien dalam perkara-perkara besar setelah meninggalkan lembaga antirasuah.
Sementara itu, pergantian kuasa hukum dilakukan setelah Hotman Paris Hutapea menyatakan mundur dari tim pembela Febrie Adriansyah karena alasan kesehatan. Dengan bergabungnya Febri Diansyah, tim kuasa hukum akan mendampingi seluruh proses hukum yang tengah berjalan di Kejaksaan Agung.
Kasus yang menjerat Febrie Adriansyah sendiri masih terus berproses. Penyidik terus melakukan pendalaman terhadap dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang disangkakan kepada mantan Jampidsus tersebut, sementara pihak kuasa hukum menyatakan akan menghormati seluruh proses hukum yang berlangsung sesuai ketentuan.(dv)
Sender.co.id - Komisi Gabungan DPRD Kabupaten Lampung Selatan melakukan kunjungan kerja ke PT Oasis Wood Industry pada Minggu (6/7/2026) sebagai tindak lanjut atas sejumlah persoalan yang menjadi perhatian masyarakat. Isu yang dibahas meliputi pengelolaan limbah perusahaan, kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan bagi karyawan, hingga pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR).
Kunjungan tersebut dipimpin Ketua Komisi IV DPRD Lampung Selatan, Taman, didampingi Ketua Komisi III Yuti Ramayanti, Ketua Komisi I Edi Waluyo, Anggota Komisi II Ahmad Al-Akhran, serta Anggota Komisi IV Agus Sartono, Farizal Purba, dan Derri Kusuma.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut jajaran dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Lampung Selatan.
Dalam kunjungan itu, rombongan DPRD meninjau langsung proses operasional perusahaan sekaligus menggelar dialog bersama manajemen PT Oasis Wood Industry guna memperoleh penjelasan terkait berbagai persoalan yang menjadi perhatian.
Salah satu fokus utama pembahasan adalah memastikan sistem pengelolaan limbah perusahaan telah dijalankan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, sehingga tidak menimbulkan dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat di sekitar kawasan operasional perusahaan.
Di bidang ketenagakerjaan, DPRD juga memberikan perhatian terhadap pemenuhan hak-hak pekerja, terutama terkait kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Komisi Gabungan menegaskan bahwa seluruh pekerja berhak memperoleh perlindungan jaminan sosial sebagai bagian dari pemenuhan hak normatif sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, pelaksanaan program Corporate Social Responsibility (CSR) turut menjadi pembahasan. DPRD mendorong agar PT Oasis Wood Industry dapat mengimplementasikan program CSR secara optimal, tepat sasaran, berkelanjutan, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Melalui kunjungan kerja tersebut, Komisi Gabungan DPRD Kabupaten Lampung Selatan berharap seluruh masukan dan persoalan yang disampaikan masyarakat dapat segera ditindaklanjuti oleh pihak perusahaan.
DPRD juga menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap aktivitas perusahaan, guna memastikan kepatuhan terhadap regulasi di bidang lingkungan hidup, ketenagakerjaan, perizinan, serta pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang sehat, menjamin perlindungan bagi tenaga kerja, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat Lampung Selatan. (ADV)
Sender.co.id – Gajah, dalam budaya
Majapahit mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam, serta menunjukkan
bagaimana simbolisme hewan ini berperan dalam pembentukan identitas pemiliknya.
Memiliki gajah, terutama yang besar dan kuat, menjadi indikator status sosial
yang tinggi bagi raja-raja dan bangsawan kala itu. Dengan kata lain, gajah
berfungsi sebagai simbol keberuntungan dan kemakmuran. Rakyat menganggap gajah
sebagai representasi dari kekuatan dan kebijaksanaan raja mereka. (DA)
Sender.co.id - Artis Syifa Hadju rupanya cukup sensitif dengan hal-hal yang tak kasat mata. Ia bisa merasakan jika ada entitas negatif yang mengikutinya, bahkan tak jarang kekasih El Rumi ini bisa melihat sosok makhluk gaib.
Saat berbincang dengan Om Hao sejarawan sekaligus konten kreator yang kerap membahas soal mistis, Syifa Hadju mengaku pernah merasakan dirinya kerap dikirim hal-hal gaib oleh seseorang yang tidak suka dengan dirinya.
"Aku tuh di dunia entertainment sering dikirimi sesuatu sama orang yang enggak suka gitu," kata Syifa Hadju dikutip dari YouTube Obrolan Santai, Selasa (26/11/2024).
Di kutip dari okezone.com, Bahkan ia termasuk orang yang lebih peka dibandingkan keluarga jika memang ada sosok atau hal aneh yang mengikutinya.
"Mungkin aku tuh lebih cepat ngerasa nya dibandingin keluarga aku. Aku ada ngerasain entitas, tapi aku ngerasa ini bukan sesuatu yang iseng ikuti aku atau yang biasa ada sama aku," ungkap Syifa Hadju.
Justru perempuan 24 tahun curiga bahwa bahwa entitas yang mengikuti itu bertujuan untuk mencelakakan dirinya.
"Tapi memang sesuatu yang sengaja dikirimin buat aku untuk mencelakakan aku," terang Syifa Hadju.
Kecurigaan Syifa Hadju itu dibenarkan oleh Om Hao, ia bahkan menyebut jika sosok itu hadir dan masih mengikuti Syifa Hadju.
"Dan posisinya hari ini pun dia ikut gitu, ada," ucap Om Hao.
Om Hao lalu mendekatkan telapak tangannya ke arah dahi Syifa Hadju sambil menunjuk posisi sosok tersebut. (DI)
Sender.co.id - Sebanyak 31 unit Suzuki Jimny yang tergabung dalam komunitas Jimny 74 Indonesia menggelar kegiatan touring bertajuk Explore Lampung: Gerbang Sumatera pada 11-14 Juni 2026. Peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia tersebut berkumpul di Bandar Lampung sebelum memulai perjalanan menjelajahi sejumlah destinasi wisata dan jalur petualangan di Provinsi Lampung.
Pada hari pertama, Jumat (12/6/2026), rombongan memulai kegiatan offroad di kawasan perkebunan karet Trikora, Kecamatan Jati Agung, Lampung Selatan. Jalur yang dilalui menghadirkan tantangan tersendiri bagi para peserta, mulai dari medan tanah hingga lintasan menyeberangi sungai. Ketua Umum Jimny 74 Indonesia, Alfonsus Richardo Adi Putranto, mengaku terkesan dengan pengalaman menjajal trek offroad di Lampung.
“Lampung luar biasa ya, ini di kebun karet, asyik. Medannya juga tadi cukup menantang yang turun ke sungai, jadi patut dikunjungi. Untuk teman-teman di Jawa harus ke sini. Ini adalah gerbang pintu Sumatera. Salam dari kami Jimny 74,” kata Alfonsus.
Memasuki hari kedua, Sabtu (13/6/2026), komunitas Jimny 74 Indonesia memasuki kawasan konservasi Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Meski perjalanan ditemani rintik hujan, para peserta tetap menikmati suasana yang semakin hangat dan menyenangkan. Momen yang paling dinantikan pun tiba saat rombongan bertemu langsung dengan gajah Sumatera. Seluruh peserta turun dari kendaraan untuk mengabadikan momen dan berfoto bersama mamalia besar yang menjadi ikon Taman Nasional Way Kambas tersebut.
Kegiatan yang berlangsung selama empat hari tersebut menjadi ajang silaturahmi antaranggota Jimny 74 Indonesia dari berbagai daerah. Selain mempererat kebersamaan, kegiatan ini juga menjadi cara memperkenalkan pesona wisata dan kekayaan alam Lampung kepada para pecinta otomotif dari seluruh Indonesia. (dv)
Sender.co.id - Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi flotilla bantuan kemanusiaan menuju Jalur Gaza dilaporkan mengalami penahanan oleh pasukan Israel di tengah pelayaran pada Senin (18/5/2026). Informasi tersebut ramai menjadi perhatian publik internasional setelah sejumlah komunitas kemanusiaan dan media nasional membagikan perkembangan situasi para relawan yang ikut dalam misi tersebut.
Kabar mengenai penahanan relawan Indonesia dikonfirmasi melalui sejumlah kanal resmi komunitas kemanusiaan internasional seperti @globalsumudflotilla dan @globalpeaceconvoy. Misi tersebut diketahui membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Jalur Gaza yang hingga kini masih menghadapi krisis kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan.
Dalam rombongan flotilla itu, terdapat sedikitnya empat jurnalis media nasional serta lima aktivis kemanusiaan asal Indonesia. Mereka ikut dalam pelayaran internasional sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap warga sipil Palestina.
Dari pihak media nasional, nama Bambang Noroyono dan Thoufy Badai dari @republikaonline menjadi sorotan usai Republika membagikan video keduanya yang meminta Pemerintah Republik Indonesia segera mengambil langkah diplomatik untuk memastikan keselamatan para relawan.
Sementara itu, jurnalis @tempodotco Andre Nugroho juga dilaporkan sempat mengirimkan video pesan SOS sebelum keberangkatan sebagai bagian dari safety protocol perjalanan. Hingga kini, pihak Tempo mengaku belum mengetahui lokasi pasti Andre dan komunikasi dengan dirinya masih terputus.
Melalui unggahan akun @chikifawzi, sejumlah nama relawan Indonesia lain juga disebut perlu terus dipantau karena belum dapat dihubungi. Nama-nama tersebut di antaranya @thoudybadai, @hendrroprstys, @andrejournal, Apra Sadewa, @wirasanu, @hermanbudianto73, @spiritofaqsanews, @rherubowo, hingga @abeng_c40.
Menanggapi situasi tersebut, Menteri Komunikasi dan Digital RI Meutya Hafid mengecam tindakan militer Israel terhadap rombongan misi kemanusiaan internasional tersebut. Ia juga menyatakan dukungannya terhadap langkah diplomatik Kementerian Luar Negeri RI guna memastikan perlindungan dan keselamatan seluruh WNI yang berada di dalam kapal bantuan menuju Gaza.
“Pemerintah Indonesia terus melakukan koordinasi untuk memastikan perlindungan dan keselamatan WNI yang mengikuti misi kemanusiaan tersebut,” ujar Meutya Hafid seperti dikutip ANTARA.
Dalam laporan terpisah, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman guna menyiapkan langkah pelindungan serta opsi pemulangan bagi para WNI apabila diperlukan.
Direktur Middle East Monitor Indonesia, Hilman Fauzi, menilai misi kemanusiaan sipil seperti flotilla Gaza merupakan bentuk solidaritas global terhadap warga sipil Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan.
“Isu kemanusiaan di Gaza telah menjadi perhatian masyarakat dunia. Kehadiran relawan sipil dari berbagai negara menunjukkan solidaritas internasional terhadap warga Palestina,” ujar Hilman Fauzi.
Peristiwa ini kini menjadi perhatian luas publik Indonesia dan internasional. Di media sosial, banyak masyarakat menyampaikan doa dan dukungan agar seluruh relawan Indonesia yang mengikuti misi kemanusiaan tersebut dapat segera dipastikan keamanannya dan kembali ke Tanah Air dalam keadaan selamat. (wg/dv)
Sender.co.id - Rektor Universitas Muhammadiyah Kalianda menyampaikan rasa bangga dan apresiasi setinggi-tingginya kepada salah satu alumni terbaik, Nur Aidi, S.E., atas dedikasi, integritas, serta berbagai prestasi gemilang yang berhasil diraihnya dalam dunia perkoperasian.
Saat ini, Nur Aidi dipercaya mengemban amanah sebagai Manager LKM Mandiri Rajabasa, yang dikenal sebagai salah satu koperasi simpan pinjam terbaik di Provinsi Lampung. Di bawah kepemimpinannya, LKM Mandiri Rajabasa terus berkembang menjadi lembaga keuangan yang sehat, profesional, inovatif, dan berkomitmen dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan ekonomi berbasis koperasi.
Tidak hanya itu, Nur Aidi juga memperoleh kepercayaan sebagai Asesor Koperasi Nasional, sebuah posisi strategis yang mencerminkan kapasitas, kompetensi, serta integritasnya dalam melakukan penilaian, pembinaan, dan pengembangan koperasi di tingkat nasional.
Dalam kunjungan silaturahmi ke Kantor LKM Mandiri Rajabasa, Rektor Universitas Muhammadiyah Kalianda menegaskan bahwa keberhasilan Nur Aidi merupakan bukti nyata kualitas lulusan Universitas Muhammadiyah Kalianda yang mampu tampil sebagai pemimpin, profesional, dan agen perubahan di tengah masyarakat.
"Kami merasa sangat bangga atas capaian yang diraih Saudara Nur Adi. Prestasi ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi beliau secara pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan besar bagi almamater. Keberhasilannya membuktikan bahwa lulusan Universitas Muhammadiyah Kalianda mampu bersaing, dipercaya mengemban amanah strategis, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi dan kemajuan bangsa. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi dan motivasi bagi seluruh mahasiswa maupun alumni untuk terus berkarya, berprestasi, dan mengharumkan nama almamater di tingkat regional maupun nasional," ujar Rektor.
Sementara itu, Nur Aidi menyampaikan bahwa perjalanan karier dan berbagai pencapaian yang diraihnya tidak terlepas dari bekal ilmu pengetahuan, nilai-nilai kepemimpinan, serta semangat pengabdian yang ditanamkan selama menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Kalianda. Ia berharap sinergi antara perguruan tinggi dan dunia koperasi terus diperkuat dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul, berintegritas, dan berdaya saing.
Kunjungan tersebut juga menjadi momentum strategis untuk mempererat hubungan kelembagaan serta membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara Universitas Muhammadiyah Kalianda dan LKM Mandiri Rajabasa, khususnya dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, penelitian, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Prestasi yang diraih Nur Aidi, S.E. menjadi bukti bahwa alumni Universitas Muhammadiyah Kalianda mampu memberikan kontribusi nyata di berbagai sektor strategis. Universitas Muhammadiyah Kalianda akan terus berkomitmen mencetak lulusan yang unggul, berkarakter Islami, profesional, dan siap menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. (wg)
Sender.co.id - Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Selata. melaksanakan peluncuran Integrasi Layanan Primer (ILP) 2024. Hal ini dilakukan sebagai upaya meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan primer.
Kegiatan yang dipusatkan di Puskesmas Way Urang Kalianda (24/12/2024) ini, dihadiri oleh Kepala Tim Kerja ILP Direktorat Takelmas Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Rima Damayanti, secara virtual melalui aplikasi Zoom Meeting, Pj. Sekda Kabupaten Lampung Selatan, Injti Indriati, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dr. Edwin Rusli, serta jajaran kepala perangkat daerah di lingkungan pemerintahan setempat.
Integrasi layanan primer ini merujuk pada upaya dalam menata kembali layanan kesehatan yang berkualitas bagi masyarakat, dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan kesehatan pada siklus kehidupan.
Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, dr. Edwin Rusli. Dirinya mengatakan, jika upaya ini merupakan pengimplementasian dari program kementerian kesehatan dalam menjalankan sistem pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terintegritas.
“Ini sejalan dengan arah kebijakan bidang kesehatan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang mencakup kekuatan kesehatan dasar, serta mendorong pemanfaatan teknologi transformasi layanan kesehatan primer itu sendiri,” ujar Edwin.
Tidak hanya itu, dr. Rima Damayanti berharap, jika pelayanan kesehatan primer ini mampu menjadi layanan kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat dengan memfokuskan pada menjaga masyarakat agar tetap sehat, bukan mengobati yang sakit.
“Jadi, kita juga berharap, layanan kita itu dikunjungi oleh orang yang sehat, yang ingin tetap sehat, hidup lebih baik, produktif. Dengan menjaga masyarakat tetap sehat, kita tidak lagi mengobati orang sakit.” Kata Rima Damayanti.
Di samping itu, Penjabat Sekda Kabupaten Lampung Selatan, Injti Indriati mengungkapkan, melalui launching ILP ini kepala unit pelaksana teknis di tiap puskesmas diharapkan dapat menata kembali pelayanan kesehatan primer yang ada dengan melakukan perbaikan, menata kembali, dan mengevaluasi terhadap upaya layanan kesehatan yang dilakukan.
“Di Lampung Selatan sendiri sudah ada 28 Puskesmas yang tersebar di 17 kecamatan. Banyak inovasi yang berkaitan dengan layanan kesehatan yang telah kita bentuk bersama, mulai dari Gardu Elit, Laskar Disko, Jembatan Emas, Putri Bisa, dan masih banyak lagi inovasi yang dikembangkan di tiap-tiap UPT,” terang Intji.
Dari inovasi-inovasi yang sudah ada tersebut, Injti meminta kepada jajaran terkait untuk memaksimalkan dan meningkatkan kualitas layanan terhadap masyarakat, untuk mencapai transformasi kesehatan primer yang berkualitas dan sesuai standar. (VE)
Sender.co.id – Penyerang muda berdarah Indonesia-Australia, Mitchell Lee Baker, resmi menyandang status Warga Negara Indonesia (WNI) setelah menjalani pengambilan sumpah kewarganegaraan di Kantor Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU), Kementerian Hukum, Senin (13/7). Rampungnya proses naturalisasi tersebut menjadi langkah penting bagi Mitchell untuk memperkuat Tim Nasional (Timnas) Indonesia pada ajang internasional mendatang.
Prosesi pengambilan sumpah dihadiri sejumlah pejabat, di antaranya Ketua Umum PSSI Erick Thohir, Manajer Timnas Indonesia Sumardji, perwakilan Kementerian Hukum, serta keluarga Mitchell Baker. Setelah resmi menjadi WNI, PSSI akan melanjutkan proses administrasi perpindahan federasi dari Football Australia ke PSSI agar pemain berusia 19 tahun itu dapat didaftarkan sesuai regulasi FIFA.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyambut rampungnya proses naturalisasi Mitchell Baker dan berharap kehadiran pemain muda tersebut dapat menambah kekuatan skuad Garuda di lini depan.
"Alhamdulillah proses naturalisasi Mitchell Baker telah selesai. Selamat datang dan selamat bergabung menjadi bagian dari keluarga besar sepak bola Indonesia. Kami berharap Mitchell dapat memberikan kontribusi terbaik untuk Timnas Indonesia," ujar Erick Thohir.
Mitchell Baker lahir di Melbourne, Australia, pada 11 Desember 2006. Ia memiliki darah Indonesia dari sang ibu, Maureen Lee Baker, yang keluarganya berasal dari Yogyakarta dan Semarang, Jawa Tengah. Garis keturunan tersebut membuat Mitchell memenuhi syarat untuk mengajukan perpindahan kewarganegaraan melalui jalur naturalisasi.
Usai resmi menjadi WNI, Mitchell dijadwalkan langsung bergabung dengan pemusatan latihan (training camp/TC) Timnas Indonesia di Bali sebagai bagian dari persiapan menghadapi ASEAN Hyundai Cup 2026. Namun, sebelum dapat menjalani debut resmi bersama skuad Garuda, PSSI masih harus menyelesaikan proses perpindahan asosiasi sepak bola dari Football Australia ke FIFA melalui PSSI.
Mitchell mengaku bangga akhirnya resmi menjadi warga negara Indonesia. Menurutnya, momen tersebut merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam hidupnya dan menjadi kebanggaan bagi seluruh keluarganya.
"Saya sangat senang dan bangga. Ini adalah momen yang luar biasa bagi saya dan keluarga. Saya sudah tidak sabar mengenakan jersey Timnas Indonesia dan memberikan yang terbaik untuk negara ini," ujar Mitchell Baker.
Sementara itu, Manajer Timnas Indonesia Sumardji memastikan seluruh proses administrasi lanjutan akan segera diselesaikan agar Mitchell dapat memenuhi syarat memperkuat Timnas Indonesia dalam agenda internasional terdekat.
Naturalisasi Mitchell Baker merupakan bagian dari upaya PSSI memperkuat regenerasi skuad Garuda melalui pemain-pemain muda yang memiliki garis keturunan Indonesia. PSSI berharap kehadiran Mitchell mampu menambah kedalaman skuad sekaligus meningkatkan daya saing Timnas Indonesia di level Asia maupun internasional. (it,dv)
Sender.co.id - Di tengah berkembangnya industri kreatif di Lampung Selatan, sebuah pertemuan hangat terjadi antara dunia pendidikan dan dunia usaha. Pada Selasa (02/06/2026), Rektor Universitas Muhammadiyah Kalianda (UMKalianda), Susilawati, S.Sos., M.IP., M.M., berkunjung ke kantor Arauscorp (PT Araus Digital Nusantara) yang berlokasi di Jalan Singa Khalang, Desa Kekiling, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Kedatangan Susilawati disambut langsung oleh Founder & CEO Arauscorp, Divson Zulfansyah. Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna, membahas berbagai peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan sektor industri kreatif yang saat ini mulai tumbuh di daerah.
Dalam perbincangan sore itu, Susilawati mengaku terkesan dengan perkembangan perusahaan yang dirintis oleh putra daerah Lampung tersebut. Terlebih, Divson merupakan alumni UMKalianda yang saat itu masih bernama STIE Muhammadiyah Kalianda.
"Saya lihat di sini keren. Saya sangat bangga melihat ananda bisa terus mengembangkan industri kreatif di kabupaten ini. Kantor dan SDM yang ada buat saya terkagum. Terlebih bila kolaborasi antara Arauscorp dan UMKalianda ini bisa terus terjalin," kata Susilawati.
Menurutnya, keberadaan perusahaan kreatif yang tumbuh dari daerah menjadi bukti bahwa lulusan perguruan tinggi mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menghadirkan inovasi di kampung halamannya sendiri.
Tak hanya itu, Susilawati juga menyampaikan keinginannya agar mahasiswa UMKalianda dapat memperoleh pengalaman langsung di dunia kerja melalui program magang di Arauscorp.
"Kedepannya juga peluang-peluang magang untuk mahasiswa-mahasiswa kita arahkan ke sini. Mudah-mudahan mereka bisa banyak menimba ilmu di kantor ini," ujarnya.
Sementara itu, Divson Zulfansyah mengaku tidak menyangka kantor yang dirintisnya akan mendapat kunjungan langsung dari orang nomor satu di UMKalianda.
"Awalnya kaget dapat info ibunda akan berkunjung ke kantor kecil kami. Saya sangat berterima kasih atas kunjungan orang nomor satu di UMKalianda. Sebuah kehormatan dan kebanggaan yang besar, kantor kecil ini kedatangan orang penting," ungkapnya.
Bagi Divson, kunjungan tersebut menjadi penyemangat untuk terus mengembangkan perusahaan sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kampus tempat dirinya menempuh pendidikan.
"Semoga saya bisa lebih banyak berkontribusi dan dapat menebar manfaat kepada kampus tercinta. Terlebih Bu Rektor yang meminta langsung, saya upayakan yang terbaik," katanya.
Pertemuan tersebut turut didampingi Kepala Bagian Kemahasiswaan UMKalianda, Khil Wailmi, S.E., M.Si. Selain mempererat silaturahmi, diskusi juga membahas sejumlah peluang kerja sama yang dapat diwujudkan dalam waktu dekat.
Pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas lulusan, hingga sinergi antara kampus dan dunia usaha menjadi beberapa topik yang mengemuka dalam pertemuan tersebut. Langkah ini dinilai penting untuk membangun ekosistem pendidikan yang semakin dekat dengan kebutuhan industri serta membuka lebih banyak ruang bagi mahasiswa untuk berkembang di dunia profesional. (red)
Sender.co.id - Sorak penonton memenuhi arena Way Handak Expo, Kalianda, Sabtu (23/5/2026). Di antara deru mesin dan kepulan asap ban yang membakar aspal, ada satu nama yang menyita perhatian publik Lampung Selatan: Widyya Turro.
Bukan karena ia datang sebagai unggulan nasional. Justru sebaliknya, Widyya hadir sebagai wajah baru, talenta muda lokal yang untuk pertama kalinya dipercaya tampil di Indonesian Drift Series (IDS) 2026, kompetisi drift bergengsi tingkat nasional.
Bagi perempuan muda asal Kalianda itu, ini bukan sekadar lomba. Ini adalah panggung pembuktian.
Untuk pertama kalinya, seorang putri daerah Lampung Selatan mendapat dukungan sponsor untuk turun langsung di lintasan resmi, beradu kemampuan dengan para drifter nasional yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.
“Ini pertama kali saya ikut lomba drift. Rasanya sangat menegangkan, tapi sekaligus bangga karena bisa mewakili Lampung Selatan di event nasional,” ujar Widyya.
Sebelum tampil di IDS, Widyya menjalani latihan intensif selama dua bulan. Setiap sesi latihan ia jalani dengan satu tekad, membuktikan bahwa pembalap lokal juga layak berdiri sejajar dengan nama-nama besar di dunia drifting nasional.
Tantangan itu tidak ringan. Drift bukan sekadar memacu kendaraan cepat, tetapi soal keberanian, presisi, dan kendali penuh di tengah tekanan.
Namun justru di sanalah Widyya menemukan gairahnya.
Menariknya, dunia drift bukanlah arena pertama yang ia kenal.
Widyya sebelumnya lebih akrab dengan balap drag, lintasan lurus yang menuntut kecepatan murni. Namun sebuah ajakan untuk mencoba drifting justru mengubah arah perjalanannya.
“Aku awalnya memang suka drag race. Tapi waktu ditawari latihan drift, ternyata rasanya berbeda. Lebih menantang, lebih seru,” katanya.
Meski baru setahun terjun di dunia balap dan baru sekali mengikuti kompetisi drag race, Widyya mengaku langsung jatuh cinta pada atmosfer motorsport.
“Memang seseru itu dunia balap mobil,” ucapnya sambil tersenyum.
Keikutsertaan Widyya di IDS 2026 membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil di lintasan.
Ia menjadi simbol bahwa Kabupaten Lampung Selatan tidak kekurangan talenta muda, termasuk di cabang olahraga otomotif yang selama ini kerap didominasi nama-nama besar dari kota besar.
Di tengah geliat sport tourism yang sedang dibangun melalui ajang IDS di Way Handak Expo, kehadiran Widyya memberi dimensi baru, bahwa event nasional ini bukan hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga membuka ruang lahirnya atlet lokal.
Dan bagi banyak anak muda di Kabupaten Lampung Selatan, kisah Widyya adalah pesan sederhana namun kuat, mimpi besar bisa dimulai dari daerah sendiri.
Di lintasan Way Handak, Widyya mungkin sedang belajar menghadapi lawan-lawan besar. Namun bagi masyarakat Kabupaten Lampung Selatan, ia sudah memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting: kebanggaan.
Seorang dara muda dari Kalianda kini berdiri di lintasan nasional, membuktikan bahwa putri daerah pun mampu melaju kencang, berani, dan percaya diri di panggung Indonesia. (red)
Sender.co.id - Tren staycation dengan konsep private luxury stay kian diminati wisatawan yang menginginkan pengalaman menginap lebih eksklusif dan tenang. Tidak hanya soal fasilitas, tetapi juga soal lokasi dan panorama yang menjadi nilai utama.
Di Lampung Selatan, pengalaman tersebut dapat ditemukan di Marina by The Cliff, penginapan yang berdiri tepat di atas tebing kawasan Pantai Marina dan menawarkan pemandangan laut lepas tanpa batas.
Marina by The Cliff berada di Desa Merak Belatung, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan. Kawasan Pantai Marina sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi favorit di wilayah tersebut. Lokasinya berjarak sekitar 63 hingga 64 kilometer dari pusat Kota Bandar Lampung dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 20 menit, sehingga relatif mudah dijangkau untuk liburan akhir pekan.
Sesuai namanya, penginapan ini mengusung konsep cliff view dengan posisi tepat di atas tebing. Tamu dapat menikmati suasana laut sejak pagi hari yang tenang hingga momen matahari terbenam yang memukau langsung dari area vila.
Pengelola Pantai Marina Lampung, Nike Hermansyah, mengatakan bahwa konsep ini dirancang untuk memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan.
“Marina by The Cliff kami siapkan sebagai pengalaman menginap dengan view terbaik di kawasan Pantai Marina, sehingga tamu benar benar bisa menikmati suasana laut dari ketinggian,” ujarnya.
Marina by The Cliff dilengkapi dua kamar tidur dengan total empat king bed. Tersedia pula dua kamar mandi lengkap dengan perlengkapan mandi, ruang keluarga yang nyaman, serta dapur dengan fasilitas lengkap untuk menunjang kebutuhan selama menginap.
Fasilitas tersebut membuat penginapan ini cocok untuk liburan keluarga, honeymoon, maupun staycation bersama sahabat.
Salah satu daya tarik utama adalah keberadaan plunge pool privat yang langsung menghadap laut lepas. Tamu dapat berendam santai sambil menikmati angin pantai dan panorama biru yang terbentang luas.
Untuk tarif menginap, harga yang ditawarkan sebesar Rp4,5 juta per malam pada hari biasa dan Rp5 juta per malam saat akhir pekan.
Dengan konsep eksklusif dan panorama alam yang kuat, Marina by The Cliff menjadi salah satu pilihan akomodasi premium di kawasan Pantai Marina, Lampung Selatan. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui akun Instagram resmi @marinabythecliff. (dv)
Sender.co.id – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Kalianda resmi melaksanakan hari pertama kegiatan Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) pada Senin (20/07/2026). Kegiatan ini dilaksanakan di dua sekolah mitra, yakni SD Aisyiyah Kalianda dan SD Aisyiyah Candipuro, sebagai langkah awal mahasiswa dalam mengenal lingkungan sekolah sekaligus mengimplementasikan ilmu kependidikan yang telah diperoleh selama perkuliahan.
Pada pelaksanaan hari pertama, mahasiswa disambut oleh pihak sekolah dan diperkenalkan dengan lingkungan, tenaga pendidik, serta berbagai aktivitas akademik yang berlangsung di masing-masing sekolah. Kegiatan ini menjadi momentum awal bagi mahasiswa untuk beradaptasi dengan budaya sekolah, memahami administrasi pembelajaran, serta mengamati proses belajar mengajar sebagai bekal dalam pelaksanaan praktik selanjutnya.
Di SD Aisyiyah Kalianda, kegiatan PLP didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Annisa Yola Safarina, S.Pd., M.Pd. Sementara itu, di SD Aisyiyah Candipuro, pendampingan dilakukan oleh Maharani Fadhiyah Haifani, S.Pd., M.Pd. Kehadiran dosen pembimbing di hari pertama menjadi bentuk dukungan sekaligus memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan PLP.
Dosen Pembimbing Lapangan SD Aisyiyah Kalianda, Annisa Yola Safarina, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan PLP bukan sekadar memenuhi tuntutan akademik, tetapi menjadi proses pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk memahami dunia pendidikan secara langsung.
"Hari pertama merupakan tahapan penting bagi mahasiswa untuk membangun komunikasi yang baik dengan warga sekolah serta menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja sebagai calon pendidik. Saya berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar, mengamati, dan menunjukkan sikap profesional selama menjalankan PLP," ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Dosen Pembimbing Lapangan SD Aisyiyah Candipuro, Maharani Fadhiyah Haifani, S.Pd., M.Pd., menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi pedagogik maupun karakter sebagai calon guru.
"PLP menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori yang telah dipelajari di bangku kuliah dengan praktik nyata di sekolah. Selain kemampuan mengajar, mahasiswa juga perlu membangun etika, tanggung jawab, dan kemampuan berkolaborasi dengan seluruh warga sekolah," ungkapnya.
Melalui pelaksanaan hari pertama ini, mahasiswa PGSD Universitas Muhammadiyah Kalianda diharapkan mampu beradaptasi dengan baik serta memperoleh pengalaman yang berharga dalam memahami dinamika kehidupan sekolah. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk calon guru sekolah dasar yang profesional, kompeten, dan berkarakter sesuai dengan nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah. (*)
Sender.co.id - Seorang pria berinisial MA (19) diamankan polisi setelah diduga menusuk dua orang menggunakan senjata tajam dalam peristiwa yang terjadi di kawasan BHC Siger Park, Bakauheni, Lampung Selatan, Rabu (27/5/2026) malam.
Peristiwa tersebut diduga bermula dari persoalan pengembalian kartu SIM antara korban perempuan berinisial DE (21) dengan seorang perempuan berinisial KL. Berdasarkan keterangan yang dihimpun polisi, korban terus berupaya meminta kartu SIM miliknya dikembalikan meski komunikasi antara keduanya sebelumnya telah terputus.
Kapolsek KSKP Bakauheni Iptu Fransiskus Yepta Terang Ginting menjelaskan, KL bersama MA kemudian mendatangi rumah korban untuk mengembalikan kartu SIM tersebut. Namun saat tiba di lokasi, korban tidak berada di rumah sehingga kartu SIM dititipkan kepada kerabat korban.
Setelah itu, KL dan MA melanjutkan perjalanan menuju arah Kalianda. Dalam perjalanan, keduanya diduga berpapasan dengan korban DE yang saat itu bersama saksi AA. Situasi kemudian memanas hingga terjadi aksi saling kejar yang berujung keributan di kawasan Pos Security BHC Siger Park Bakauheni.
Menurut keterangan polisi, perkelahian terjadi antara para pihak yang terlibat. Dalam laporan awal kepolisian disebutkan MA diduga mengambil pisau yang dibawanya saat berada dalam posisi terdesak.
“Dikarenakan pelaku dalam posisi terdesak lalu pelaku mengambil pisau dari pinggangnya yang kemudian diayunkan sebanyak lima kali hingga korban terluka,” demikian tertulis dalam laporan resmi kepolisian.
Akibat kejadian tersebut, DE mengalami luka tusuk pada bagian dada kiri dengan kedalaman sekitar empat sentimeter. Sementara korban lainnya, MZR (16), mengalami luka robek pada beberapa jari tangan kanan hingga harus mendapatkan 28 jahitan.
Kedua korban sempat mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Bakauheni sebelum dirujuk ke RSUD Dr H Bob Bazar SKM Kalianda untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Polisi yang menerima laporan keributan sekitar pukul 21.00 WIB langsung mendatangi lokasi dan mengamankan MA tidak jauh dari tempat kejadian. Dari tangan pelaku, petugas menyita satu bilah pisau atau badik, kendaraan milik pelaku dan korban, sejumlah telepon genggam, serta barang bukti lainnya.
Kapolsek KSKP Bakauheni menyatakan MA saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka karena diduga membawa dan menggunakan senjata tajam dalam peristiwa tersebut.
Penyidik juga masih mendalami kemungkinan adanya keterlibatan pihak lain dalam kasus tersebut setelah ditemukan senjata tajam lain yang disebut milik salah seorang saksi.
Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 466 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang penganiayaan dengan ancaman pidana penjara paling lama dua tahun enam bulan. (dv)
Sender.co.id - Elon Musk melalui platform X memperkenalkan aplikasi pesan instan baru bernama XChat yang disiapkan sebagai pesaing WhatsApp dan layanan serupa. Aplikasi ini dijadwalkan meluncur pada Jumat (17/4/2026) dan akan tersedia lebih dulu untuk pengguna iPhone dan iPad.
XChat menjadi bagian dari ambisi Musk untuk mengembangkan X sebagai “super app” yang menggabungkan berbagai layanan dalam satu platform. Ia sebelumnya menegaskan ingin menghadirkan sistem komunikasi yang lebih aman dan privat dalam satu ekosistem terpadu.
XChat hadir sebagai aplikasi terpisah yang fokus pada komunikasi privat dengan sejumlah fitur unggulan. Fitur tersebut antara lain enkripsi end-to-end (E2EE), panggilan suara dan video lintas perangkat, pengiriman file, hingga kemampuan mengedit dan menghapus pesan. Musk juga menekankan bahwa keamanan pengguna menjadi prioritas utama dalam pengembangan aplikasi ini.
Selain itu, aplikasi ini juga dilengkapi fitur keamanan tambahan seperti pesan yang dapat hilang otomatis serta pemblokiran tangkapan layar untuk menjaga privasi pengguna. XChat bahkan disebut tidak menyertakan iklan maupun pelacakan aktivitas pengguna.
Aplikasi ini telah tersedia dalam tahap pra-pemesanan di App Store sebelum resmi dirilis. XChat juga memungkinkan pengguna membuat grup percakapan dengan kapasitas besar, mencapai ratusan anggota.
Pengembangan XChat sendiri telah direncanakan sejak 2025, ketika Musk menyatakan ingin membangun sistem komunikasi baru dengan standar enkripsi yang lebih kuat. Alih-alih hanya memperbarui fitur pesan di dalam aplikasi X, perusahaan akhirnya merilis XChat sebagai aplikasi mandiri.
Kehadiran XChat dinilai menjadi langkah strategis Elon Musk dalam menantang dominasi aplikasi pesan instan seperti WhatsApp, Telegram, dan Signal, sekaligus memperkuat ekosistem digital X sebagai platform terpadu. (wg/dv)
Sender.co.id - Merek Aletra resmi diperkenalkan di Indonesia. Merek ini berfokus kepada model mobil listrik dan saat ini hanya ada satu model yang dipasarkan di Indonesia, yakni Aletra L8 EV dan hadir dalam dua varian
Di Indonesia, Aletra bekerja sama dengan PT Sinar Armada Globalindo (SAG) untuk memasarkan produknya. SAG sendiri sudah bekerja sama dengan Livan Auto yang merupakan anak perusahaan Geely sejak tahun 2023
Seperti diketahui sebelumnya, Aletra semacam perpanjangan tangan dari Geely untuk hadir di Indonesia. Dan Aletra L8 EV Mengambil basis dari Geely Jiaji versi EV yaitu Livan Maple 80v.
Lawan tangguh dari BYD M6 ini hadir dalam dua varian, yakin L8 dan juga L8S. Varian L8 merupakan versi Short Range dengan baterai berkapasitas 50,4 kWh dengan range 431 km CLTC. Motor listriknya memiliki tenaga 161 hp serta torsi 240 Nm. Sedangkan L8S memiliki kapasitas baterai 64,74 kWh dengan range 540 km CLTC. Sedangkan motor listriknya memiliki output tenaga yang sama dengan varian L8.
Aletra L8 dijual dengan harga mulai dari Rp 415 juta khusus event GJAW 2024 dan termahalnya dipasarkan dijual dengan harga Rp 458 juta. (AR)
Sender.co.id - Berjarak delapan tahun dari versi pertama, Moana 2 hadir membawa kisah kelanjutan sang putri suku Polinesia yang tak kenal takut. Kali ini, Moana 2 juga menghadirkan sejumlah karakter baru.
Tak ketinggalan, sederet lagu-lagu juga jadi pemanis film rilisan Walt Disney Animation Studios ini dengan lagu hits Beyond, menggantikan How Far I'll Go yang ada di film pertama.
Berikut sinopsis Moana 2.
Tiga tahun sejak Moana berhasil melewati batas karang dan mengembalikan jantung dewi alam Te Fiti, Moana didatangi oleh leluhurnya yang bernama Tautai Vasa, dikutip CNN.
Tautai merupakan mereka yang dianggap berjasa berjuang membuka jalan menyatukan pulau-pulau Oseania. Moana yang sering bepergian untuk menemukan penghuni lain pun diberi gelar serupa oleh desanya.
Tautai Vasa berpesan kepada Moana untuk menemukan pulau terkutuk, Motufetu. Motufetu konon punya peran penting, tapi dikutuk dengan ditenggelamkan oleh dewa bernama Nalo.
Sadar bahaya akan Motufetu, Moana tetap ingin berangkat. Namun kali ini, Moana didera rasa takut, tak seperti saat dulu kala. Hal ini karena Moana sudah memiliki seorang adik perempuan.
SISTERS -- In Walt Disney Animation Studios’ all-new feature film “Moana 2,” Moana embarks on an expansive new voyage to the far seas of Oceania—but she’ll surely miss her litter sister, Simea. Featuring the voices Auli‘i Cravalho as Moana and Khaleesi Lambert-Tsuda as Simea, the all-new feature film opens in theaters on Nov. 27, 2024. © 2024 Disney Enterprises, Inc. All Rights Reserved.Sinopsis Moana 2: Moana sudah memiliki seorang adik perempuan. (Disney)
Adiknya itu bernama Simea. Simea terlihat sangat overprotective terhadap Moana yang bepergian terus. Namun itu bentuk cinta Simea yang begitu besar, sama seperti cinta Moana untuk Simea.
Pilihan Redaksi
Josh Brolin Cerita Bikin Marah James Cameron Usai Tolak Main di Avatar
Bioskop Baru Khusus Film Indonesia Bakal Buka di 17 Kabupaten
Joko Anwar Ungkap 4 Film Baru Come and See Pictures, Rilis Mulai 2025
Melalui saran ibunda dan berbekal tanggung jawab yang besar, Moana membentuk sekelompok kru kapal untuk pergi mencari Motufetu. Dirinya mengikuti perkataan Tautai Vasa untuk mengikuti "api di langit."
Perjalanan dengan berbagai macam karakteristik berbeda itu berjalan sangat rumit. Saat tim tersebut sudah rukun, mereka dipertemukan dengan Kakamora yang merupakan kelompok perompak berbentuk kelapa.
Dalam perjalanan, mereka tanpa sengaja juga bertemu Maui yang ternyata adalah tawanan dewi Matangi.
Saat perjalanan hampir mencapai Motufetu, bahaya sesungguhnya semakin terlihat jelas mendekat. Keberanian dan tekad Moana, Maui, serta krunya pun semakin diuji oleh Nalo.
Moana 2 merupakan sekuel langsung dari film animasi Moana yang dirilis pada 2016. Naskah Moana 2 masih ditulis oleh Jared Bush yang kini dibantu oleh Dana Ledoux Miller.
Miller juga ikut duduk di kursi sutradara bersama David Derrick Jr. dan Jason Hand. Moana 2 sekaligus jadi karya debut Miller sebagai sutradara.
Moana 2 kembali dibintangi oleh para bintang sebelumnya, yakni Auliʻi Cravalho, Dwayne Johnson, Temuera Morrison, Nicole Scherzinger, Rachel House, dan Alan Tudyk.
Namun kali ini, Moana 2 membawa pemeran baru, yakni Khaleesi Lambert-Tsuda, Rose Matafeo, David Fane, Hualālai Chung, Awhimai Fraser, dan Gerald Ramsey.
Moana 2 semula digarap untuk menjadi serial panjang dan tayang di Disney+. Namun kemudian rencana itu diubah untuk menjadi film bioskop pada Februari 2024.
Mark Mancina yang menggarap lagu dan lirik untuk film pertama kembali digandeng. Namun posisi Lin-Manuel Miranda diganti oleh Abigail Barlow dan Emily Bear.
Moana 2 dapat disaksikan di bioskop seluruh Indonesia mulai 27 November 2024. (AF)
Sender.co.id - Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pola konsumsi yang lebih memperhatikan kandungan gizi, kesegaran bahan, hingga cara penyajian kini mulai menjadi perhatian, termasuk di daerah seperti Kalianda.
Namun di tengah tren tersebut, pilihan jajanan sehat yang mudah dijangkau masih tergolong terbatas. Kondisi ini yang kemudian mendorong lahirnya berbagai inovasi kuliner berbasis healthy food, salah satunya melalui kehadiran FruitLpg di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.
Brand kuliner ini resmi dibuka pada 18 Agustus 2024 dan menjadi pelopor sekaligus satu satunya yang fokus menghadirkan jajanan sehat di wilayah tersebut. Kehadirannya membawa alternatif baru bagi masyarakat yang ingin menikmati makanan enak tanpa mengabaikan aspek kesehatan.
Di balik FruitLpg, ada sosok Tasya Aurel yang membawa misi edukasi kepada masyarakat. Ia ingin menunjukkan bahwa makanan sehat tidak harus mahal dan tetap bisa dinikmati oleh semua kalangan.
“Tujuan utamanya adalah mengedukasi bahwa hidup sehat bisa dimulai dari hal sederhana, termasuk dari apa yang kita konsumsi setiap hari,” ujarnya.
Mengusung branding sebagai Healthy Food Center No.1 di Kalianda, FruitLpg hadir dengan konsep store bernuansa pink yang estetik dan kekinian, menyasar generasi muda yang kini mulai peduli dengan gaya hidup sehat. Store ini berlokasi di Jl. Kusuma Bangsa No.18, Way Urang, Kecamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung dan beroperasi setiap hari pukul 08.00 hingga 19.00 WIB.
Dari segi menu, FruitLpg menawarkan beragam pilihan makanan dan minuman sehat. Mulai dari smoothies seperti Ban Berry dan Berry Bliss, hingga makanan seperti salad sayur dan fruit salad dengan buah segar.
Selain itu tersedia juga dessert sehat seperti choco fruit dengan cokelat premium, serta menu andalan mango sticky rice atau mantan yang menjadi favorit pelanggan. Menu creamy lychee juga hadir sebagai pilihan signature dengan cita rasa khas dan stok terbatas.
Seluruh menu dibanderol dengan harga terjangkau mulai dari Rp15.000 hingga Rp30.000 sehingga dapat dijangkau oleh berbagai kalangan.
Melalui konsep yang diusung, FruitLpg tidak hanya menjadi tempat jajan, tetapi juga bagian dari upaya membangun kebiasaan hidup sehat di tengah masyarakat Kalianda. (tf/dv)
Sender.co.id – Tidak semua perusahaan lahir dari
kota-kota besar. Sebagian justru tumbuh dari daerah yang selama bertahun-tahun
lebih sering menjadi pasar daripada pusat lahirnya gagasan baru.
Hal yang sama pernah terjadi pada industri kreatif. Selama bertahun-tahun,
Jakarta, Bandung, dan Surabaya dikenal sebagai pusat pertumbuhan berbagai
agensi kreatif, rumah produksi, hingga perusahaan digital. Sementara di banyak
daerah, layanan kreatif masih dipandang sebagai pelengkap, bukan sebagai bagian
penting dalam pertumbuhan sebuah bisnis.
Padahal, perubahan perilaku masyarakat telah mengubah cara sebuah usaha
berkembang. Produk yang baik tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas. Di
era digital, sebuah merek membutuhkan identitas, cerita, strategi komunikasi,
dan kemampuan beradaptasi agar mampu bersaing di pasar yang semakin terbuka.
Di Lampung, kebutuhan tersebut mulai tumbuh seiring meningkatnya kesadaran pelaku
usaha, instansi pemerintah, hingga berbagai organisasi terhadap pentingnya
branding dan komunikasi. Namun ketika permintaan mulai meningkat, jumlah pelaku
industri yang mampu memberikan layanan secara profesional masih relatif
terbatas. Di tengah ruang yang belum banyak terisi itulah muncul peluang untuk
membangun sesuatu yang berbeda.
Berangkat dari keyakinan bahwa kreativitas dapat menjadi penggerak pertumbuhan
bisnis, sekelompok anak muda di Lampung Selatan mulai merintis sebuah perusahaan
yang tidak hanya menawarkan jasa kreatif, tetapi juga membangun cara baru dalam
mendampingi pelaku usaha. Dari gagasan tersebut kemudian lahir Arauscorp, yang
berkembang sebagai creative holding company dengan berbagai lini usaha di
bidang industri kreatif, media, dan sektor pendukung lainnya.
Di balik perjalanan tersebut adalah Divson Zulfansyah. Baginya, membangun
industri kreatif bukan sekadar menghasilkan karya visual yang menarik,
melainkan menciptakan ruang agar lebih banyak pelaku usaha daerah mampu
berkembang melalui kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi yang tepat.
Perjalanan itu tidak dimulai dari modal yang besar ataupun peralatan yang
lengkap. Semuanya berawal dari sebuah keyakinan sederhana bahwa kemampuan
selalu lebih bernilai daripada keterbatasan, dan bahwa sebuah perusahaan yang
kuat hanya dapat lahir ketika dibangun di atas gagasan yang lebih besar
daripada dirinya sendiri.
Hal yang sama pernah terjadi pada industri kreatif. Selama bertahun-tahun, Jakarta, Bandung, dan Surabaya dikenal sebagai pusat pertumbuhan berbagai agensi kreatif, rumah produksi, hingga perusahaan digital. Sementara di banyak daerah, layanan kreatif masih dipandang sebagai pelengkap, bukan sebagai bagian penting dalam pertumbuhan sebuah bisnis.
Padahal, perubahan perilaku masyarakat telah mengubah cara sebuah usaha berkembang. Produk yang baik tidak lagi cukup hanya mengandalkan kualitas. Di era digital, sebuah merek membutuhkan identitas, cerita, strategi komunikasi, dan kemampuan beradaptasi agar mampu bersaing di pasar yang semakin terbuka.
Di Lampung, kebutuhan tersebut mulai tumbuh seiring meningkatnya kesadaran pelaku usaha, instansi pemerintah, hingga berbagai organisasi terhadap pentingnya branding dan komunikasi. Namun ketika permintaan mulai meningkat, jumlah pelaku industri yang mampu memberikan layanan secara profesional masih relatif terbatas. Di tengah ruang yang belum banyak terisi itulah muncul peluang untuk membangun sesuatu yang berbeda.
Berangkat dari keyakinan bahwa kreativitas dapat menjadi penggerak pertumbuhan bisnis, sekelompok anak muda di Lampung Selatan mulai merintis sebuah perusahaan yang tidak hanya menawarkan jasa kreatif, tetapi juga membangun cara baru dalam mendampingi pelaku usaha. Dari gagasan tersebut kemudian lahir Arauscorp, yang berkembang sebagai creative holding company dengan berbagai lini usaha di bidang industri kreatif, media, dan sektor pendukung lainnya.
Di balik perjalanan tersebut adalah Divson Zulfansyah. Baginya, membangun industri kreatif bukan sekadar menghasilkan karya visual yang menarik, melainkan menciptakan ruang agar lebih banyak pelaku usaha daerah mampu berkembang melalui kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi yang tepat.
Perjalanan itu tidak dimulai dari modal yang besar ataupun peralatan yang lengkap. Semuanya berawal dari sebuah keyakinan sederhana bahwa kemampuan selalu lebih bernilai daripada keterbatasan, dan bahwa sebuah perusahaan yang kuat hanya dapat lahir ketika dibangun di atas gagasan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Setiap perjalanan memiliki titik awal. Namun, tidak semua titik awal hadir dalam bentuk keputusan besar. Ada kalanya sebuah perjalanan dimulai dari langkah sederhana yang kemudian mengubah arah kehidupan seseorang.
Bagi Divson Zulfansyah, titik awal itu terjadi pada 2006. Saat usianya masih delapan tahun, keluarganya memutuskan meninggalkan Bumi Dipasena, Kabupaten Tulang Bawang, dan kembali menetap di Lampung Selatan, kampung halaman kedua orang tuanya.
Sebelumnya, kedua orang tuanya menggantungkan kehidupan sebagai petambak plasma di kawasan tambak milik PT Dipasena Citra Darmaja. Seperti banyak keluarga petambak pada masa itu, perubahan kondisi kehidupan membuat mereka memutuskan untuk kembali ke tanah kelahiran dan memulai babak baru bersama keluarga.
Bagi Divson, perpindahan tersebut menjadi pengalaman yang membentuk banyak hal. Lampung Selatan bukan sekadar tempat tinggal baru, tetapi ruang tempat ia tumbuh, belajar, membangun pertemanan, hingga mengenal lingkungan yang kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri Kekiling, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Kalianda. Ketika memasuki jenjang sekolah menengah kejuruan, ia memilih Jurusan Teknik Audio Video di SMK Negeri 2 Kalianda dan lulus pada 2016.
Pilihan tersebut lahir dari ketertarikannya terhadap dunia elektronik, audio, dan visual. Namun seiring waktu, ketertarikan itu berkembang menjadi sesuatu yang lebih luas. Ia mulai melihat bahwa teknologi bukan hanya tentang perangkat, tetapi juga tentang bagaimana sebuah gagasan dapat disampaikan melalui gambar, suara, dan cerita yang mampu menjangkau banyak orang.
Minat tersebut terus tumbuh selama masa sekolah. Tanpa disadari, pengalaman-pengalaman sederhana yang ia jalani di Lampung Selatan menjadi bekal awal untuk memahami dunia yang kelak menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Dari sana, sebuah kesempatan baru kemudian datang melalui dunia penyiaran, membuka jalan yang mempertemukannya dengan industri kreatif untuk pertama kalinya.
Selepas menyelesaikan pendidikan di SMK Negeri 2 Kalianda pada 2016, Divson Zulfansyah tidak langsung memiliki gambaran akan menjadi seorang entrepreneur. Saat itu, fokus utamanya sederhana: terus belajar dan memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.
Kesempatan pertama hadir melalui dunia penyiaran. Sebelumnya, ketika masih duduk di bangku SMK, Divson mengikuti program Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Radar Lampung TV. Pengalaman tersebut menjadi pertemuan pertamanya dengan industri media, tempat ia melihat bagaimana sebuah informasi diproduksi, dikemas, dan disampaikan kepada masyarakat melalui kerja sama banyak orang di balik layar.
Tidak lama setelah lulus, ia direkrut sebagai staf produksi Saburai TV, televisi lokal di bawah naungan Radar Lampung Group. Bersamaan dengan itu, Radar Lampung Group juga memberikan kesempatan kepadanya untuk melanjutkan pendidikan melalui program beasiswa di Program Studi Manajemen, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Kalianda, yang kini telah bertransformasi menjadi Universitas Muhammadiyah Kalianda.
Bagi Divson, kesempatan tersebut bukan sekadar jalan untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga ruang untuk memahami bagaimana sebuah organisasi bekerja. Rutinitas bekerja sambil menempuh pendidikan manajemen membuatnya melihat bahwa teori dan praktik tidak berjalan sendiri-sendiri. Apa yang dipelajari di ruang kuliah perlahan menemukan bentuknya dalam dinamika pekerjaan sehari-hari, sementara pengalaman di lapangan membuat setiap konsep yang dipelajari menjadi lebih mudah dipahami.
Di luar aktivitas akademik dan pekerjaan, tahun 2017 menjadi pengalaman lain yang turut membentuk kepercayaan dirinya. Saat itu, Divson mengikuti ajang Muli Mekhanai Kabupaten Lampung Selatan dan berhasil meraih Juara II, kemudian mewakili Kabupaten Lampung Selatan pada ajang Muli Mekhanai tingkat Provinsi Lampung.
Pengalaman tersebut membuka ruang baru baginya. Ia belajar berbicara di depan publik, menyampaikan gagasan dengan percaya diri, membangun komunikasi dengan berbagai kalangan, sekaligus memahami pentingnya representasi dan etika dalam berinteraksi. Kemampuan-kemampuan yang diperoleh dari pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal yang sangat berguna ketika harus mempresentasikan ide, berdiskusi dengan klien, maupun memimpin sebuah tim di kemudian hari.
Namun, titik penting dalam perjalanan kariernya justru datang ketika ia memperoleh kesempatan untuk ikut membangun sebuah usaha di sektor makanan dan minuman.
Pada Desember 2019, Divson dipercaya ikut mengelola Kopi Janji Manis di Kalianda. Dunia yang dihadapinya kini berbeda. Jika sebelumnya ia terbiasa dengan proses produksi media, kali ini ia berhadapan langsung dengan operasional sebuah bisnis, pelanggan, strategi pemasaran, hingga persaingan pasar.
Tidak lama setelah itu, salah satu jaringan kedai kopi nasional mulai hadir di Kalianda. Kehadiran merek besar tersebut menjadi penanda bahwa persaingan bisnis di daerah mulai berubah. Bagi sebagian pelaku usaha, kondisi itu mungkin dianggap sebagai ancaman. Namun bagi Divson, justru menjadi tantangan untuk membuktikan bahwa bisnis lokal juga mampu berkembang apabila memiliki strategi yang tepat.
Di sinilah ketertarikannya terhadap digital marketing mulai tumbuh dengan serius.
Ia mulai mempelajari bagaimana media sosial membangun hubungan dengan pelanggan, membentuk identitas merek, sekaligus memengaruhi keputusan pembelian. Hampir setiap strategi yang dipelajarinya langsung diuji melalui akun media sosial Kopi Janji Manis.
Dari sana ia memahami bahwa media sosial bukan sekadar tempat mengunggah konten, melainkan ruang untuk membangun kepercayaan. Setiap materi komunikasi harus memiliki tujuan yang jelas dan mampu memberikan dampak terhadap pertumbuhan sebuah usaha.
Perlahan, hasilnya mulai terlihat. Kehadiran digital marketing memberikan pengaruh terhadap perkembangan bisnis yang dikelolanya. Pengalaman tersebut membuka cara pandangnya bahwa kreativitas tidak hanya menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi juga mampu menjadi alat untuk mengembangkan sebuah bisnis.
Dari sanalah lahir pemahaman baru yang kemudian menjadi fondasi perjalanan berikutnya.
Ia menyadari bahwa banyak pelaku usaha, khususnya UMKM di daerah, sebenarnya memiliki produk yang baik. Namun, tidak semuanya memahami bagaimana membangun merek, berkomunikasi dengan pelanggan, atau memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar.
Pengalaman mengelola bisnis membuatnya mampu melihat persoalan dari sudut pandang pemilik usaha. Ketika nantinya bertemu dengan klien, ia tidak hanya berbicara mengenai desain, foto, video, atau media sosial. Ia memahami bagaimana rasanya menghadapi penjualan yang menurun, persaingan yang semakin ketat, hingga tantangan mengembangkan sebuah usaha di tengah perubahan perilaku konsumen.
Baginya, layanan kreatif seharusnya tidak berhenti pada menghasilkan konten yang menarik. Layanan kreatif harus mampu membantu sebuah bisnis bertumbuh.
Pemikiran itulah yang kemudian terus berkembang. Sedikit demi sedikit, muncul keyakinan bahwa pengalaman yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun dapat menjadi bekal untuk membantu lebih banyak pelaku usaha. Dari keyakinan tersebut, sebuah gagasan mulai menemukan bentuknya, membangun perusahaan kreatif yang tidak hanya menawarkan jasa, tetapi juga menjadi mitra bagi bisnis-bisnis yang ingin berkembang di era digital.
Setelah bertahun-tahun belajar dari dunia media, organisasi, hingga operasional bisnis, Divson mulai melihat sebuah pola yang sama hampir di setiap tempat yang pernah ia jalani.
Banyak usaha memiliki produk yang baik. Banyak pelaku usaha bekerja dengan penuh dedikasi. Namun tidak sedikit di antaranya yang masih kesulitan membangun identitas merek, menjangkau pelanggan baru, ataupun memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai bagian dari strategi bisnis mereka.
Di sisi lain, industri kreatif di Lampung perlahan mulai tumbuh. Akan tetapi, saat itu jumlah pelaku yang mampu menghadirkan layanan kreatif secara profesional masih relatif terbatas. Branding masih sering dipahami sebatas membuat logo. Media sosial hanya dianggap sebagai tempat mengunggah foto. Padahal, menurut Divson, keduanya memiliki peran yang jauh lebih besar dalam menentukan bagaimana sebuah bisnis dikenal dan berkembang.
Dari kegelisahan itulah muncul sebuah pertanyaan yang terus mengganggunya.
"Kalau pengalaman ini bisa membantu satu bisnis berkembang, mengapa tidak membantu lebih banyak bisnis lainnya?"
Pertanyaan sederhana itu kemudian berkembang menjadi sebuah gagasan.
Ia tidak ingin membangun perusahaan yang hanya menjual desain grafis, fotografi, video, atau layanan media sosial. Yang ingin dibangun adalah sebuah perusahaan yang mampu memahami kebutuhan bisnis klien secara menyeluruh, kemudian menerjemahkannya ke dalam strategi komunikasi yang tepat.
Baginya, kreativitas bukanlah produk utama.
Kreativitas adalah solusi.
Pemikiran tersebut akhirnya mendorong Divson mengambil keputusan besar dalam hidupnya.
Ia mengajak dua sahabat yang telah lama dikenalnya, Ary Surya Pratama dan Lucky Ferdianto, untuk bersama-sama membangun sebuah perusahaan kreatif.
Pertemanan yang sebelumnya terjalin dalam kehidupan sehari-hari perlahan berubah menjadi hubungan profesional. Ketiganya membawa kemampuan yang berbeda, tetapi memiliki semangat yang sama untuk menciptakan sesuatu yang memiliki manfaat lebih luas.
Tidak ada kantor besar.
Tidak ada modal yang berlimpah.
Tidak ada daftar panjang klien yang sudah menunggu.
Yang mereka miliki hanyalah pengalaman, kemampuan, dan keyakinan bahwa industri kreatif di Lampung memiliki masa depan.
Dari keyakinan itulah Araus mulai dirintis.
Pada masa-masa awal, mereka tidak membangun perusahaan dengan target menjadi yang terbesar. Fokusnya justru sederhana, membantu satu klien demi satu klien memperoleh hasil terbaik. Setiap proyek diperlakukan sebagai ruang pembelajaran, sekaligus pembuktian bahwa strategi kreatif mampu memberikan dampak nyata terhadap perkembangan sebuah bisnis.
Klien pertama yang memberikan kepercayaan berasal dari sektor kecantikan, sebuah brand skincare lokal. Bagi sebagian perusahaan, satu klien mungkin hanyalah awal perjalanan bisnis. Namun bagi Araus, proyek pertama tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar. Di sanalah seluruh pengalaman yang selama ini dikumpulkan mulai diuji dalam dunia profesional.
Alih-alih menawarkan layanan secara terpisah, Divson bersama tim mencoba memahami persoalan yang dihadapi klien terlebih dahulu. Mereka tidak hanya membahas desain atau konten media sosial, tetapi juga mendiskusikan bagaimana sebuah merek dapat tumbuh, membangun kepercayaan pelanggan, dan berkomunikasi secara lebih efektif di era digital.
Pendekatan tersebut menjadi pembeda Araus sejak awal berdiri.
Pengalaman mengelola bisnis membuat Divson memahami bahwa setiap klien datang bukan karena membutuhkan desain yang lebih menarik. Mereka datang karena memiliki persoalan yang ingin diselesaikan. Ada yang ingin meningkatkan penjualan, memperkuat identitas merek, menjangkau pasar baru, atau membangun kepercayaan pelanggan.
Karena itu, setiap proyek di Araus selalu dimulai dengan satu pertanyaan sederhana.
"Apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh bisnis ini?"
Dari jawaban itulah strategi kreatif kemudian disusun.
Bagi Divson, desain, fotografi, videografi, media sosial, hingga digital marketing hanyalah alat. Nilai sesungguhnya terletak pada kemampuan memahami bisnis di balik setiap merek yang ditangani.
Cara berpikir tersebut kemudian menjadi budaya yang terus dipertahankan di Araus hingga hari ini.
Perusahaan ini tidak dibangun untuk menjadi sekadar vendor kreatif. Araus ingin tumbuh sebagai mitra yang berjalan bersama para pelaku usaha, membantu mereka beradaptasi dengan perubahan, memanfaatkan teknologi digital, dan membangun fondasi bisnis yang lebih kuat melalui kreativitas.
Membangun sebuah perusahaan kreatif sering kali identik dengan peralatan yang mahal. Kamera beresolusi tinggi, komputer dengan spesifikasi terbaik, drone, hingga berbagai perlengkapan produksi dianggap sebagai syarat utama untuk menghasilkan karya yang berkualitas.
Namun, cara pandang tersebut tidak sepenuhnya diyakini oleh Divson.
Sejak awal merintis Araus, ia justru memiliki prinsip yang berbeda. Menurutnya, kualitas sebuah karya tidak pertama-tama ditentukan oleh alat yang digunakan, melainkan oleh kemampuan orang yang mengoperasikannya.
Hingga hari ini, ia bahkan mengaku belum pernah membeli kamera untuk dirinya sendiri.
Baginya, hal itu bukanlah sebuah kekurangan. Justru dari keterbatasan tersebut ia belajar bahwa kreativitas selalu menemukan jalannya ketika seseorang memiliki kemampuan dan kemauan untuk terus berkembang.
"Yang saya miliki bukan alat, tetapi skill."
Kalimat sederhana itu kemudian menjadi salah satu filosofi yang melekat dalam perjalanan Araus.
Prinsip tersebut turut memengaruhi budaya kerja yang dibangun di dalam perusahaan. Ketika merekrut anggota tim, Divson tidak hanya melihat seberapa lengkap peralatan yang dimiliki seseorang atau seberapa banyak pengalaman yang pernah dicantumkan dalam portofolionya. Yang lebih penting adalah kemauan untuk belajar, kemampuan menyelesaikan persoalan, dan kesediaan untuk terus berkembang bersama.
Menurutnya, teknologi akan terus berubah. Kamera akan berganti, perangkat lunak akan diperbarui, bahkan tren media sosial akan datang dan pergi. Namun kemampuan berpikir, memahami kebutuhan klien, serta menghasilkan solusi kreatif akan selalu menjadi aset yang jauh lebih bernilai dibandingkan sekadar kepemilikan peralatan.
Cara berpikir tersebut juga memengaruhi bagaimana Araus melayani setiap klien.
Alih-alih langsung menawarkan paket layanan, tim Araus lebih dahulu berusaha memahami persoalan yang sedang dihadapi. Bagi Divson, sebuah bisnis tidak selalu membutuhkan video yang paling sinematik atau desain yang paling rumit. Terkadang, yang dibutuhkan justru strategi komunikasi yang sederhana, tetapi tepat sasaran.
Karena pernah berada di posisi sebagai pengelola usaha, ia memahami bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan klien merupakan sebuah investasi. Oleh sebab itu, setiap rekomendasi yang diberikan harus memiliki tujuan yang jelas dan memberikan manfaat bagi perkembangan bisnis mereka.
Pendekatan tersebut membuat hubungan Araus dengan banyak klien berkembang melampaui hubungan antara penyedia jasa dan pelanggan.
Tidak sedikit pelaku usaha yang datang untuk mendiskusikan tantangan bisnis mereka, mulai dari membangun identitas merek, meningkatkan penjualan, hingga menyusun strategi pemasaran digital. Dalam berbagai kesempatan, Divson tidak hanya hadir sebagai pelaku industri kreatif, tetapi juga sebagai rekan berdiskusi yang memahami dinamika menjalankan sebuah usaha.
Pengalaman mengelola Kopi Janji Manis menjadi bekal yang sangat berharga dalam proses tersebut. Ia mengetahui bahwa persoalan bisnis sering kali tidak berhenti pada konten media sosial. Di balik permintaan membuat desain atau video, sering kali terdapat tantangan yang lebih mendasar, seperti membangun kepercayaan pelanggan, menentukan arah merek, atau menemukan cara berkomunikasi yang sesuai dengan target pasar.
Dari sanalah lahir cara kerja yang kemudian menjadi ciri khas Araus. Kreativitas bukan sekadar menghasilkan karya yang menarik secara visual, tetapi menjadi alat untuk membantu bisnis bertumbuh.
Seiring waktu, pendekatan tersebut mulai membangun kepercayaan pasar. Satu demi satu pelaku usaha datang, bukan hanya untuk menggunakan layanan kreatif, tetapi mencari mitra yang mampu memahami perjalanan bisnis mereka.
Kepercayaan tersebut tidak berhenti pada satu proyek. Hingga hari ini, sejumlah klien masih mempercayakan kebutuhan branding, digital marketing, produksi konten, hingga pengelolaan media sosial kepada Araus melalui kerja sama jangka panjang. Beberapa di antaranya telah menjalin kemitraan selama lebih dari dua tahun dan memasuki tahun ketiga, bahkan ada yang mempercayakan Araus melalui kontrak kerja sama hingga empat tahun.
Bagi Divson, pencapaian tersebut bukan sekadar tentang lamanya kontrak. Yang lebih penting adalah kepercayaan yang terus dipertahankan. Menurutnya, mendapatkan klien mungkin bisa dilakukan melalui portofolio yang baik, tetapi mempertahankan klien hanya dapat dicapai melalui komitmen, konsistensi, dan hasil kerja yang benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan bisnis mereka.
Prinsip itulah yang terus dipegang Araus hingga sekarang. Setiap proyek dipandang bukan sebagai pekerjaan yang selesai ketika sebuah desain dipublikasikan atau video ditayangkan, melainkan sebagai awal dari hubungan jangka panjang untuk bertumbuh bersama klien.
Seiring bertambahnya pengalaman mendampingi berbagai pelaku usaha, Divson menyadari bahwa tantangan terbesar dalam industri kreatif bukanlah menghasilkan desain yang menarik atau video yang berkualitas. Tantangan sesungguhnya adalah memahami bahwa setiap bisnis memiliki persoalan yang berbeda.
Strategi yang berhasil diterapkan pada sebuah hotel belum tentu efektif bagi perusahaan properti. Pendekatan yang mampu meningkatkan kunjungan di sektor pariwisata belum tentu relevan untuk UMKM, layanan kesehatan, maupun perusahaan transportasi. Tidak ada satu formula yang dapat diterapkan kepada semua klien.
Kesadaran tersebut perlahan mengubah posisi Araus.
Apabila pada awalnya perusahaan ini dikenal sebagai penyedia layanan kreatif, seiring waktu perannya berkembang menjadi mitra yang ikut berdiskusi mengenai arah sebuah bisnis. Pembicaraan dengan klien tidak lagi berhenti pada kebutuhan membuat desain, memproduksi video, atau mengelola media sosial, tetapi mulai menyentuh identitas merek, strategi komunikasi, pengalaman pelanggan, hingga peluang-peluang pengembangan usaha.
Menurut Divson, sebuah konten yang menarik belum tentu memberikan hasil apabila tidak dibangun di atas strategi yang tepat. Sebaliknya, strategi yang baik akan lebih mudah diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk komunikasi, baik melalui desain, fotografi, videografi, media sosial, maupun kampanye digital.
Pendekatan tersebut lahir dari keyakinan bahwa kreativitas bukan tujuan akhir. Kreativitas adalah alat untuk membantu bisnis mencapai tujuannya.
Cara berpikir itu kemudian membentuk hubungan yang berbeda dengan para klien. Dalam banyak kesempatan, diskusi yang dilakukan tidak lagi terbatas pada kebutuhan produksi konten. Pembicaraan sering berkembang ke arah yang lebih luas, mulai dari penguatan identitas merek, arah komunikasi, pengalaman pelanggan, hingga peluang-peluang baru yang dapat dikembangkan.
Bagi Divson, kondisi tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Pengalaman bekerja di dunia media, menempuh pendidikan manajemen, hingga pernah mengelola sebuah usaha memberinya sudut pandang yang lebih luas terhadap dinamika sebuah bisnis. Ketika seorang klien menyampaikan keluhannya, ia tidak hanya melihatnya sebagai kebutuhan akan materi promosi, tetapi mencoba memahami akar persoalan yang sedang dihadapi.
Di sinilah peran Araus perlahan berubah.
Perusahaan ini tidak lagi hanya menjadi penyedia layanan kreatif, tetapi berkembang menjadi mitra diskusi bagi banyak pelaku usaha. Dalam setiap kolaborasi, yang dibangun bukan hanya materi komunikasi, melainkan juga cara berpikir mengenai bagaimana sebuah merek dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Perjalanan tersebut juga mengajarkan satu hal penting kepada Divson. Industri kreatif tidak bisa berdiri sendiri. Sebagus apa pun sebuah strategi komunikasi, tetap dibutuhkan ruang yang mampu menyebarkan cerita, membangun persepsi, dan mempertemukan sebuah merek dengan masyarakat yang lebih luas.
Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan gagasan berikutnya.
Setelah membantu banyak bisnis membangun identitas dan strategi komunikasi, Divson mulai melihat bahwa ekosistem kreatif membutuhkan satu unsur lain yang tidak kalah penting, yaitu media.
Bukan sekadar media sebagai saluran informasi, melainkan media yang mampu menjadi jembatan antara pelaku usaha, masyarakat, dan pembangunan daerah.
Dari pemikiran tersebut, langkah berikutnya mulai dirancang. Bukan lagi sekadar membangun sebuah perusahaan kreatif, tetapi mulai membangun sebuah ekosistem yang saling terhubung.
Gagasan mengenai ekosistem kreatif tidak lahir dalam satu malam. Ia tumbuh perlahan, seiring bertambahnya pengalaman Divson mendampingi berbagai pelaku usaha dari beragam sektor.
Ada pelaku usaha yang membutuhkan strategi komunikasi untuk memperkuat mereknya. Ada yang memerlukan pendampingan dalam membangun identitas bisnis. Ada pula yang telah memiliki produk dan layanan yang baik, tetapi belum menemukan ruang yang tepat untuk menyampaikan cerita dan membangun kepercayaan di tengah masyarakat.
Semakin banyak pengalaman yang dikumpulkan, semakin ia memahami bahwa kreativitas hanyalah satu bagian dari proses yang lebih besar. Sebuah bisnis dapat memiliki strategi yang baik, konten yang menarik, hingga identitas merek yang kuat. Namun tanpa ekosistem yang mendukung, pertumbuhan sering kali berjalan lebih lambat dari yang seharusnya.
Pemahaman tersebut kemudian mengubah cara pandangnya.
Bagi Divson, membangun sebuah perusahaan bukanlah tujuan akhir. Perusahaan hanyalah sarana. Yang ingin dibangun sesungguhnya adalah sebuah ekosistem, tempat berbagai kebutuhan dapat saling terhubung dan saling menguatkan.
Dari pemikiran itulah lahir langkah berikutnya.
Berbekal pengalaman yang pernah diperolehnya di dunia media, Divson kembali menjalin komunikasi dengan salah seorang mantan atasannya. Keduanya memiliki pandangan yang sama bahwa daerah membutuhkan media yang bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mampu menjadi ruang bagi lahirnya gagasan, kolaborasi, dan cerita-cerita yang memberi nilai bagi masyarakat.
Kesamaan visi tersebut kemudian melahirkan PT Sender Seandak Publika.
Perusahaan ini hadir bukan sebagai perluasan bisnis semata, melainkan sebagai bagian dari mata rantai yang selama ini dirasakan belum lengkap. Jika Araus berperan membantu pelaku usaha membangun strategi komunikasi dan identitas merek, maka media menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, memperluas jangkauan informasi, serta membangun kepercayaan publik melalui penyampaian informasi yang bertanggung jawab.
Perjalanan itu tidak berhenti di sana.
Seiring bertambahnya pengalaman dan semakin beragamnya kebutuhan yang ditemui di lapangan, lahirlah berbagai entitas usaha lain dengan fokus yang berbeda-beda. Masing-masing dibangun untuk menjawab kebutuhan yang nyata, bukan sekadar memperluas portofolio perusahaan. Ada yang bergerak di sektor industri kreatif, media, transportasi, properti, hingga bidang-bidang lain yang saling melengkapi sesuai perannya.
Bagi Divson, setiap perusahaan memiliki fungsi yang berbeda. Namun seluruhnya dibangun di atas filosofi yang sama, yakni menciptakan nilai melalui kolaborasi. Ketika setiap bidang menjalankan perannya dengan baik, manfaat yang dihasilkan akan jauh lebih besar dibandingkan jika masing-masing berjalan sendiri.
Cara berpikir tersebut menjadi fondasi dari setiap langkah yang diambil hingga hari ini.
Ia percaya bahwa daerah tidak pernah kekurangan orang-orang yang memiliki kemampuan maupun gagasan. Yang sering kali belum tersedia adalah ruang untuk bertemu, berkolaborasi, dan berkembang bersama. Karena itulah, setiap perusahaan yang dibangun selalu diarahkan untuk menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar, bukan sekadar berdiri sebagai sebuah entitas bisnis.
Perjalanan yang dimulai dari keluarga petambak di Bumi Dipasena, kemudian berlanjut melalui dunia media, pengalaman mengelola usaha, hingga mendirikan perusahaan kreatif, pada akhirnya membentuk satu keyakinan yang terus dipegang hingga sekarang.
Bahwa membangun perusahaan bukanlah garis akhir.
Perusahaan dapat menjadi alat. Namun yang benar-benar memberi dampak adalah ekosistem yang mampu membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk tumbuh dan saling menguatkan.
Mungkin karena itulah, bagi Divson, perjalanan ini tidak pernah benar-benar memiliki garis akhir. Sebab ketika tujuan utamanya bukan membangun satu perusahaan, melainkan membangun sebuah ekosistem, selalu akan ada ruang untuk memulai langkah berikutnya. (bf/dv/red)
Sender.co.id - Barack Obama, mantan Presiden Amerika Serikat ke-44, memiliki ikatan kuat dengan Indonesia, khususnya dengan sebuah wilayah di Jakarta yang dikenal sebagai Menteng. Sebagai seorang anak yang tumbuh di berbagai tempat, salah satu fase penting dalam kehidupannya terjadi saat ia tinggal di Indonesia selama beberapa tahun pada akhir 1960-an. Dalam periode ini, Obama kecil dikenal sebagai "Barry" dan tinggal di kawasan Menteng, Jakarta, yang meninggalkan jejak mendalam dalam dirinya.
Obama lahir di Honolulu, Hawaii, pada 4 Agustus 1961 dari pasangan Ann Dunham, seorang antropolog asal Kansas, dan Barack Hussein Obama Sr., seorang ekonom asal Kenya. Namun, saat orang tuanya bercerai, Ann Dunham menikah dengan Lolo Soetoro, seorang warga Indonesia yang sedang belajar di Amerika. Pada tahun 1967, Obama kecil bersama ibunya pindah ke Jakarta, mengikuti ayah tirinya yang bekerja di Indonesia.
Obama tinggal di kawasan Menteng Dalam, sebuah daerah yang saat itu masih relatif asri dan sepi jika dibandingkan dengan Jakarta yang ramai saat ini. Di sana, ia bersekolah di SDN 01 Menteng (dulu bernama SD Besuki), sebuah sekolah negeri yang terkenal di Jakarta. Pengalamannya di sekolah ini mengenalkan Obama pada bahasa Indonesia dan budaya lokal.
Selama di Jakarta, Obama mengalami kehidupan yang sangat berbeda dari kehidupannya di Amerika Serikat. Di Jakarta, ia belajar bahasa Indonesia dan terbiasa dengan suasana yang sangat heterogen. Obama kecil juga mengenal berbagai macam teman, dari yang berasal dari keluarga sederhana hingga yang memiliki latar belakang kaya. Interaksi dengan teman-teman sekolahnya dan kehidupan sehari-hari di lingkungan Menteng memperkaya cara pandangnya terhadap perbedaan, pluralitas, dan kehidupan sederhana.
Dalam beberapa wawancara, Obama mengingat kenangan masa kecilnya di Jakarta dengan penuh nostalgia. Ia berbagi tentang pengalaman bermain layang-layang, berjalan-jalan di gang-gang kecil, hingga memelihara monyet sebagai hewan peliharaan. Meskipun kehidupan di Jakarta penuh tantangan dan sangat berbeda dari Hawaii, masa-masa ini dianggapnya sebagai salah satu yang paling membentuk dirinya menjadi pemimpin yang berpikiran terbuka.
Setelah masa tinggalnya di Jakarta berakhir pada tahun 1971, Obama kembali ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikannya. Namun, ingatannya tentang Indonesia tidak pernah pudar. Ketika Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat pada tahun 2008, hubungan historisnya dengan Indonesia menjadi topik menarik bagi dunia, khususnya masyarakat Indonesia.
Pada tahun 2010, Obama melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Dalam pidatonya di Universitas Indonesia, ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat Indonesia atas pengalaman masa kecilnya. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia adalah tempat di mana ia pertama kali belajar tentang keragaman dan arti penting dari toleransi. Obama juga menyebutkan bahwa masa-masa kecilnya di Indonesia memberinya perspektif unik yang membantunya dalam memimpin Amerika sebagai bangsa yang beragam.
Meskipun hanya menghabiskan beberapa tahun di Indonesia, pengaruh Menteng pada karakter Obama sangatlah besar. Pengalaman hidup di lingkungan yang multikultural, berinteraksi dengan berbagai macam individu dari latar belakang yang berbeda, serta menghadapi kenyataan kehidupan di negara berkembang membuat Obama lebih siap menghadapi tantangan global. Dalam banyak kesempatan, Obama sering berbicara tentang pentingnya dialog lintas budaya dan kerjasama internasional, nilai-nilai yang mungkin sebagian besar berakar dari masa kecilnya di Menteng.
Obama "Anak Menteng" bukan hanya sebuah cerita tentang seorang pemimpin dunia yang pernah tinggal di Indonesia, melainkan juga kisah tentang bagaimana sebuah tempat dan pengalaman hidup dapat membentuk seseorang menjadi pribadi yang toleran, berpikiran terbuka, dan siap menghadapi dunia dengan cara yang berbeda.
Masa kecil Barack Obama di Menteng adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Dari gang-gang sempit di Menteng hingga Gedung Putih di Washington DC, Obama telah menempuh perjalanan panjang yang tidak hanya dipengaruhi oleh kecerdasannya, tetapi juga oleh pengalaman masa kecilnya di Indonesia. Kisah ini menjadi pengingat bahwa pengalaman di masa kecil bisa sangat berpengaruh dalam membentuk karakter dan pola pikir seseorang di kemudian hari. (DY)