Polemik Sastra Masuk Kurikulum, Begini Tanggapan BSKAP

Veridial
30 May 2024 15:47 WIB

Sender.co.id - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) baru-baru ini membuat langkah inovatif dengan memasukkan sastra kedalam Kurikulum Merdeka. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan literasi, memperkaya pengetahuan budaya, dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa di Indonesia.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikbudristek, Anindito Aditomo mengatakan, Sastra Masuk Kurikulum menyediakan daftar karya sastra Indonesia yang bisa digunakan di mata pelajaran dan pendidikan karakter. Mulai SD sampai SMA dan SMK.

"Karya sastra menjadi bahan ajar yang berharga karena bisa mengundang pembaca untuk menghayati dunia batin tokoh-tokoh yang merasakan dan memahami sesuatu dengan caranya masing-masing," Kata Anindito dikutip dari akun Instagramnya @ninoaditomo, Rabu (29/5).

Karya sastra juga mengupas isu kompleks dan menyajikan perdebatan moral yang mendorong pembaca keluar dari pemikiran hitam-putih dan memikirkan ulang opini serta prasangka yang mungkin tak disadari sebelumnya.

Tentu saja tidaklah cukup hanya meminta murid membaca karya sastra. Murid perlu berdiskusi dan berdebat tentang beragam tafsir terhadap sebuah karya.

Mereka perlu dipandu mengubah tafsir yang mereka pilih ke wahana yang berbeda: dari prosa ke puisi atau sebaliknya; dari teks menjadi gambar, drama, atau film; dan dari fiksi menjadi kritik sastra atau karya ilmiah.

Dengan kata lain pembelajaran sastra tidak terbatas pada menghafal buku dan siapa penulisnya, berasal dari aliran atau periode apa, dan sebagainya. Tetapi lebih jauh menggali nilai-nilai yang ada dalam sebuah karya sastra. Bahkan memberi kesempatan untuk mengembangkan dengan kreativitasnya masing-masing.

Dia mencontohkan penerapannya sudah ditampilkan saat peluncuran oleh SDN Banyuripan yang membuat pentas wayang dari adaptasi buku 'Mata dan Rahasia Pulau Gapi' yang ditulis Okky Madasari.

SMP Sekolah Alam Bogor menampilkan musikalisasi puisi 'Hatiku Selembar Daun' yang ditulis Sapardi Djoko Damono. Sementara SMA Kolese Gonzaga Jakarta yang membuat monolog dari novel 'Laut Bercerita' karya Leila S. Chudori.

"Bagi sebagian guru, pemanfaatan karya sastra dalam pembelajaran mungkin hal baru. Karena itu kami menyusun modul-modul ajar yang bisa menjadi inspirasi atau diadaptasi oleh guru," tambahnya.

Anindito menambahkan jika ada pihak yang punya contoh praktik dan modul yang bisa digunakan guru lain dipersilahkan untuk dikirim. Ini bisa melengkapi modul yang ada di Platform Merdeka Mengajar.

Peluncuran Sastra Masuk Kurikulum dibarengi dengan Buku Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra, hal tersebut ditanggapi beragam oleh publik. Buku yang disusun dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia ini mencakup 177 judul buku fiksi.

Daftar ini direkomendasikan para kurator yang terdiri dari para akademisi, sastrawan terkenal dan para pendidik. Dari jumlah itu 43 karya untuk SD sederajat, 29 judul untuk jenjang SMP, dan 105 untuk SMA/SMK/MA.

Anindito juga mengakui sejak diluncurkan Sastra Masuk Kurikulum mendapat banyak tanggapan positif dan masukan kritis. Ini menggembirakan karena menunjukkan antusiasme dan kepedulian berbagai pihak.

"Semua masukan sedang kami olah sebagai bahan perbaikan. Ada beberapa pertanyaan dan masukan yang ingin saya tanggapi," katanya, dalam keterangan tertulis, Rabu.

Pertama soal tujuan program. Menurutnya, Sastra Masuk Kurikulum adalah program pendukung Kurikulum Merdeka. Ini bukan kanonisasi sastra, melainkan upaya membantu guru memanfaatkan sastra dalam pembelajaran. Karena itu salah satu kriteria utama yang digunakan tim kurator adalah kecocokan sebagai bahan ajar kurikulum.

"Tentu akan ada karya-karya yang dipandang adiluhung, namun tidak masuk dalam daftar. Meski begitu, daftar karya ini akan terus kita perbarui secara berkala. Silakan kirim usulan kepada Pusat Perbukuan Kemendikbudristek," katanya.

Yang kedua, terkait masuknya karya kurator dalam daftar rekomendasi. Anindito menyebutkan yang perlu diketahui adalah proses kurasi dilakukan secara terpisah antara jenjang SD, SMP, dan SMA - dengan tim kurator yang berbeda.

Tim kurator SMA bisa mengusulkan karya dari kurator SD atau SMP, dan sebaliknya. Tapi tidak ada kurator yang mengusulkan dan menilai karyanya sendiri.

Yang ketiga tentang panduan pembelajaran. Anindito mengaku sudah meminta tim panduan untuk mengumpulkan semua masukan, menyunting ulang, dan jika perlu mengubah konsep panduannya. Tim ini terpisah dari kurator.

"Prinsipnya, panduan ini tidak menginterpretasi atau mengkritik karya terpilih, melainkan memberi informasi yang membantu guru untuk mempertimbangkan karya tersebut dan mempunyai bayangan cara menggunakannya di kelas," tambahnya.

"Prinsipnya, panduan ini tidak menginterpretasi atau mengkritik karya terpilih, melainkan memberi informasi yang membantu guru untuk mempertimbangkan karya tersebut dan mempunyai bayangan cara menggunakannya di kelas," tambahnya.

Terakhir juga mengenai beban bagi guru dan murid. Menurut Kepala BSKAP Kemendikbudristek ini, sebagai alat bantu penerapan kurikulum, program ini tentu mengikuti prinsip Kurikulum Merdeka yang memberi fleksibilitas bagi guru.

Daftar ini diibaratkan sebagai menu yang membantu guru meracik masakan yang cocok untuk muridnya. Tidak ada kewajiban murid untuk membaca semua, atau bahkan sebagian, karya yang direkomendasikan.

"Jadi, tidak ada beban tambahan. Justru ini membantu penerapan Kurikulum Merdeka yang memang memberi banyak ruang bagi beragam bahan belajar - termasuk karya sastra," terangnya.

Source: Jawapos.com

 

Tag

Komentar