Pattun, Puisi Lisan Warisan Budaya dari Lampung

Divya Naila
09 September 2024 19:44 WIB

Sender.co.id - Kesusastraan masyarakat Lampung pada umumnya didominasi oleh sastra lisan. Sastra lisan ini terbagi menjadi tiga jenis, yaitu puisi, peribahasa, dan prosa (cerita rakyat atau warahan). Jenis puisi mencakup beberapa bentuk, seperti pepatcor, pattun, pisaan, bebandung, paradini, mammang, dan peribahasa atau pepatah.

Pattun merupakan salah satu bentuk puisi lisan Lampung yang biasa digunakan oleh pemuda-pemudi dalam suasana gembira, saat menjalin hubungan cinta, atau ketika menghadiri pesta pernikahan untuk memeriahkan acara. Istilah pattun dikenal di beberapa wilayah masyarakat Lampung, seperti Abung, Menggala (Tulang Bawang), Pubian, Sungkai, Way Kanan, dan Melinting. Di daerah Pesisir, dikenal dengan istilah segata, atau di beberapa tempat disebut juga adi-adi.

Pattun, atau yang dikenal juga sebagai segata atau adi-adi, adalah bentuk sastra lisan khas Lampung. Seperti halnya pantun yang kita kenal, pattun Lampung terdiri dari bait-bait bersajak yang terdiri dari 4 hingga 6 baris. Pattun biasanya digunakan dalam berbagai acara adat Lampung, dan pada masa lampau, sering diucapkan saat acara hiburan. Isi pattun umumnya berisi ungkapan perasaan, harapan, pujian, atau humor. Pattun digunakan untuk menyampaikan perasaan cinta antara pemuda-pemudi atau dalam pertemuan sosial mereka.

Pattun di masyarakat Lampung bisa digolongkan sebagai bentuk nyanyian daerah yang berkaitan dengan sikap dan perilaku sehari-hari. Salah satu bentuk sastra lisan Lampung adalah pattun atau wayak, yang pada umumnya terdiri dari kata-kata bersajak. Pattun sering digunakan oleh anak-anak muda ketika bergembira, saat mereka menjalin kasih, atau dalam perayaan pernikahan untuk menambah kemeriahan.

Pattun terdiri dari empat baris, di mana baris pertama dan kedua adalah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat berisi makna atau pesan utama. Sampiran berfungsi sebagai pengantar untuk baris yang mengandung isi. Pattun biasanya digunakan dalam acara Muli Mekhansi (acara bujang gadis) ketika melakukan rekreasi bersama, atau dalam acara khusus seperti upacara pernikahan.

Penyampaian pattun bisa dilakukan secara lisan dengan berhadap-hadapan, namun bagi yang merasa malu, pattun dapat ditulis. Bait-bait pattun umumnya mengandung perasaan dan isi hati pemuda-pemudi yang sedang menjalin cinta. (DY)

Komentar