(Megawati Soekarnoputri/istimewa)
Sender.co.id - Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mengaku dirinya dituding mengintimidasi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, karena sebelumnya ingin bertemu Kapolri jika Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto ditangkap aparat penegak hukum. Megawati menegaskan, dirinya tidak mengintimidasi, melainkan hanya ingin bertemu dengan Kapolri.
"Ini yang saya mau menerangkan, ada orang ngomong lho, kok saya mengintimidasi Kapolri. Lah kalau intimidasi, saya nggak ngomong di depan umum. Aih aku pikir. Lho iya kenapa enggak boleh ketemu Kapolri," kata Megawati saat menyampaikan pidato politik di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Jakarta Pudat, Rabu (14/8).
Megawati menyatakan bahwa dirinya yang memisahkan Polri saat menjadi Presiden RI kelima. Ia menekankan, Kapolri harus membukakan pintu jika ada masyarakat yang ingin bertemu, termasuk dirinya.
"Saya warga negara Indonesia. saya yang memisahkan polri. Betul apa tidak? Jaman presiden loh. Terus masa rakyat nggak boleh ketemu ama Kapolri. Lah kalau saya bilang mau ketemu Kapolri, Kapolrinya kan mestinya buka pintu," ucap Megawati.
Megawati menyebut sampai saat ini belum ada surat yang tertuju kepadanya, terkait pertemuan dengan Kapolri itu.
"Sampai hari ini nggak ada surat, ibu Mega yang terhormat ayok kita ngobrol. Memangnya nanti saya terus mau ditangkap karena mau ketemu Kapolri ditangkap?" ujar Megawati.
Sebelumnya, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri mengancam akan mendatangi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo jika Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto ditangkap oleh aparat penegak hukum.
Hal itu disampaikan Megawati dalam pidato politik di Mukernas Partai Perindo, Jakarta Pusat, Selasa (30/8).
"Jadi saya bilang sama Hasto, 'udah enggak usah takut, nanti kalau kamu diambil (ditangkap), aku pergi ke Kapolri', aku bilang gitu," ujar Megawati.
Megawati menegaskan dirinya selalu mengajarkan seluruh kader partai untuk selalu menegakkan kebenaran. Ia juga meyakini, Kapolri tidak akan bisa bicara apabila didatanginya.
"Mbok saya kan selalu mengajarkan kebenaran is kebenaran. Saya sampai tanya. Saya kan nanya sama ahli tata negara, pengacara, sebenarnya salah saya ini opo toh. Coba pikir, coba kalau bisa. Tapi mau ngambil saya pada enggak berani. Jadi yang sasarannya di sekeliling saya gitu lho," pungkasnya. (*)
Komentar