Disuruh Beli Mi Kuah Malah Beli Mi Goreng, Serda Ahmad Tewas Usai Diduga Dibina Senior

Wangga Lasmi Damayanti
14 September 2026 12:54 WIB

Sender.co.id – Kematian Prajurit TNI Angkatan Udara (TNI AU) Serda Ahmad Muzammil Farisa (22) di Mess Psikologi Galaksi, Kompleks Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, tengah menjadi sorotan. Ahmad meninggal dunia pada Kamis (10/9/2026) sekitar pukul 03.00 WIB setelah diduga mengalami kekerasan dalam proses yang oleh pihak TNI AU disebut sebagai “pembinaan”. Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) kini melakukan penyelidikan untuk mengungkap kronologi dan penyebab kematiannya.

Ayah Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengungkap dugaan kekerasan tersebut diduga dilakukan oleh empat senior putranya. Keempat prajurit yang disebut keluarga masing-masing berinisial Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH. Menurut Toni, informasi yang diterimanya menyebut persoalan bermula ketika Ahmad diminta membeli makanan oleh seniornya. Ahmad disebut diminta membeli mi kuah, tetapi justru membawa mi goreng.

“Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng,” ujar Toni.

Toni mengatakan dugaan kekerasan tersebut terjadi dalam dua waktu berbeda. Berdasarkan informasi yang diterimanya, kejadian pertama berlangsung sekitar pukul 23.00 WIB pada Rabu (9/9/2026), kemudian kembali terjadi pada Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Tak lama setelah itu, Ahmad dinyatakan meninggal dunia.

Toni mengaku tidak menyangka pertemuannya dengan Ahmad pada Selasa (8/9/2026) di Jakarta menjadi pertemuan terakhir. Saat itu, dirinya sedang menjalankan tugas dinas dan berkesempatan bertemu putranya. Momen tersebut bahkan sempat diabadikan dalam foto.

“Tidak mengira pertemuan terakhir,” kata Toni dengan mata sembab.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma TNI I Nyoman Suadnyana membenarkan bahwa kasus kematian Ahmad sedang ditangani Pomau. Ia mengatakan penyidik telah meminta keterangan dari sejumlah pihak serta mengumpulkan bukti untuk mengungkap kejadian secara utuh.

“TNI Angkatan Udara menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang personel TNI AU, Serda AMF. Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau) saat ini tengah melakukan penyelidikan terkait dugaan kekerasan yang dialaminya,” ujar Nyoman.

Nyoman menegaskan proses pemeriksaan dilakukan secara profesional dan objektif sesuai ketentuan hukum. TNI AU masih mendalami fakta kejadian, termasuk peran masing-masing personel yang diduga terlibat serta penyebab pasti kematian Ahmad.

Dalam perkembangan terbaru, empat prajurit yang diduga terlibat telah ditahan oleh Pomau. Namun, TNI AU masih menggunakan istilah “pembinaan” dalam menjelaskan kegiatan yang dialami Ahmad sebelum meninggal. Karena proses penyidikan masih berjalan, dugaan penganiayaan dan kaitannya dengan kematian Ahmad masih harus dibuktikan melalui proses hukum.

Sosok Ahmad juga dikenang sebagai prajurit yang religius dan memiliki kepribadian baik. Kolonel Ariyanto dari Dinas Penerangan TNI AU mengatakan Ahmad dikenal sebagai prajurit yang rajin beribadah dan menjadi sosok yang baik bagi rekan-rekannya.

“Kita semua tahu bahwa almarhum merupakan sosok yang selalu memulai salat subuh di asrama,” ujar Ariyanto saat memberikan sambutan dalam pemberangkatan jenazah Ahmad.

Kasus kematian Serda Ahmad Muzammil Farisa kini masih dalam penyelidikan Pomau. Keluarga berharap proses hukum dapat mengungkap secara terang apa yang terjadi terhadap Ahmad hingga kehilangan nyawa, sementara empat prajurit yang telah ditahan masih menjalani proses pemeriksaan. (wg)

Komentar