Hasil PISA 2025 menunjukkan capaian pendidikan Indonesia dalam bidang sains, membaca, dan matematika. Foto: Instagram/litbangdikbud
Sender.co.id – Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 resmi dirilis OECD pada 8 September 2026. Asesmen ini melibatkan lebih dari 760 ribu siswa dari 91 negara dan ekonomi, termasuk Indonesia.
Dalam hasil terbaru, capaian Indonesia menunjukkan perkembangan berbeda di tiga bidang utama. Skor sains meningkat dari 383 pada PISA 2022 menjadi 389 poin, sedangkan skor membaca naik dari 359 menjadi 365 poin. Namun, skor matematika justru turun dari 366 menjadi 364 poin.
Untuk sains, Indonesia berada di peringkat 73 dari 91 negara dan ekonomi dengan skor 389. Sementara pada kemampuan membaca, Indonesia berada di peringkat 74 dari 90 negara, dengan skor 365. Adapun matematika menempatkan Indonesia di peringkat 78 dari 90 negara, dengan skor 364.
Meski ada kenaikan skor di sains dan membaca, capaian Indonesia masih berada cukup jauh di bawah rata-rata OECD. Rata-rata OECD tercatat 482 poin untuk sains, 461 poin untuk membaca, dan 463 poin untuk matematika.
OECD mencatat hanya sekitar 37 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam sains. Untuk membaca, angkanya sekitar 27 persen, sementara matematika hanya sekitar 17 persen siswa yang mencapai tingkat kompetensi minimum.
Kondisi matematika menjadi salah satu perhatian utama. Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, menilai hasil tersebut perlu menjadi dorongan agar pembelajaran di kelas tidak hanya berorientasi pada hafalan rumus.
“Jadi yang dipelajari di kelas itu hendaknya bermakna, membangun nalar kritis murid, mereka dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika,” kata Satriwan.
Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin menilai hasil PISA tidak semata-mata harus dilihat dari posisi peringkat. Menurutnya, kenaikan kemampuan membaca dan sains menunjukkan adanya perkembangan positif dalam pembelajaran.
“Keberhasilan kita bukan naiknya posisi Indonesia dalam peringkat PISA, melainkan semakin naiknya kemampuan murid kita dalam bernalar, memecahkan masalah, dan belajar sepanjang hayat,” ujar Toni.
Selain capaian akademik, PISA 2025 juga menunjukkan peningkatan besar dalam cakupan siswa Indonesia yang masuk dalam sistem pendidikan formal.
Kemendikdasmen mencatat Coverage Index Indonesia mencapai 0,90 atau sekitar 90 persen pada PISA 2025. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan 0,46 pada keikutsertaan Indonesia di PISA 2003.
OECD sendiri mencatat PISA 2025 di Indonesia diikuti 14.168 siswa dari 419 sekolah, yang mewakili sekitar 3,995 juta siswa berusia 15 tahun atau sekitar 90 persen dari populasi usia tersebut.
Hasil PISA 2025 pun menunjukkan pekerjaan rumah pendidikan Indonesia masih cukup besar. Sains dan membaca memang mengalami kenaikan skor, tetapi kemampuan matematika masih tertinggal dan proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum di ketiga bidang tersebut masih rendah dibandingkan rata-rata OECD. (ra/wg)
Dalam hasil terbaru, capaian Indonesia menunjukkan perkembangan berbeda di tiga bidang utama. Skor sains meningkat dari 383 pada PISA 2022 menjadi 389 poin, sedangkan skor membaca naik dari 359 menjadi 365 poin. Namun, skor matematika justru turun dari 366 menjadi 364 poin.
Untuk sains, Indonesia berada di peringkat 73 dari 91 negara dan ekonomi dengan skor 389. Sementara pada kemampuan membaca, Indonesia berada di peringkat 74 dari 90 negara, dengan skor 365. Adapun matematika menempatkan Indonesia di peringkat 78 dari 90 negara, dengan skor 364.
Meski ada kenaikan skor di sains dan membaca, capaian Indonesia masih berada cukup jauh di bawah rata-rata OECD. Rata-rata OECD tercatat 482 poin untuk sains, 461 poin untuk membaca, dan 463 poin untuk matematika.
OECD mencatat hanya sekitar 37 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam sains. Untuk membaca, angkanya sekitar 27 persen, sementara matematika hanya sekitar 17 persen siswa yang mencapai tingkat kompetensi minimum.
Kondisi matematika menjadi salah satu perhatian utama. Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Satriwan Salim, menilai hasil tersebut perlu menjadi dorongan agar pembelajaran di kelas tidak hanya berorientasi pada hafalan rumus.
“Jadi yang dipelajari di kelas itu hendaknya bermakna, membangun nalar kritis murid, mereka dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika,” kata Satriwan.
Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikdasmen Toni Toharudin menilai hasil PISA tidak semata-mata harus dilihat dari posisi peringkat. Menurutnya, kenaikan kemampuan membaca dan sains menunjukkan adanya perkembangan positif dalam pembelajaran.
“Keberhasilan kita bukan naiknya posisi Indonesia dalam peringkat PISA, melainkan semakin naiknya kemampuan murid kita dalam bernalar, memecahkan masalah, dan belajar sepanjang hayat,” ujar Toni.
Selain capaian akademik, PISA 2025 juga menunjukkan peningkatan besar dalam cakupan siswa Indonesia yang masuk dalam sistem pendidikan formal.
Kemendikdasmen mencatat Coverage Index Indonesia mencapai 0,90 atau sekitar 90 persen pada PISA 2025. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan 0,46 pada keikutsertaan Indonesia di PISA 2003.
OECD sendiri mencatat PISA 2025 di Indonesia diikuti 14.168 siswa dari 419 sekolah, yang mewakili sekitar 3,995 juta siswa berusia 15 tahun atau sekitar 90 persen dari populasi usia tersebut.
Hasil PISA 2025 pun menunjukkan pekerjaan rumah pendidikan Indonesia masih cukup besar. Sains dan membaca memang mengalami kenaikan skor, tetapi kemampuan matematika masih tertinggal dan proporsi siswa yang mencapai kompetensi minimum di ketiga bidang tersebut masih rendah dibandingkan rata-rata OECD. (ra/wg)
Komentar