BMKG mencatat 4.258 gempa susulan pascagempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Aktivitas gempa susulan diperkirakan masih berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu ke depan. Foto : BMKG
Sender.co.id – Aktivitas gempa susulan pascagempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih cukup tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 4.258 gempa susulan hingga Jumat (21/8/2026) pukul 05.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 118 gempa dirasakan masyarakat dan 31 kejadian memiliki magnitudo di atas 5,0.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan aktivitas gempa susulan masih membutuhkan waktu untuk kembali meluruh. Menurutnya, besarnya gempa utama menjadi salah satu faktor yang membuat proses stabilisasi sesar berlangsung cukup lama.
“Karena ini gempanya cukup besar, 7,7 magnitudo, jadi peluruhannya memerlukan waktu kurang lebih tiga sampai empat minggu ke depan,” ujar Faisal.
Sebelumnya, BMKG mencatat ratusan gempa susulan terjadi sejak gempa utama mengguncang Flores pada Sabtu (15/8). Pada awal pemantauan, BMKG juga menyebut tren aktivitas gempa susulan belum menunjukkan peluruhan yang signifikan sehingga pemantauan terus dilakukan secara real-time.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama menjelaskan gempa utama tersebut merupakan gempa dangkal dengan kedalaman sekitar 15 kilometer. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust di wilayah utara Flores.
“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly ketika menjelaskan berakhirnya peringatan dini tsunami pascagempa utama.
Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan aktivitas seismik di wilayah tersebut terus dipantau karena rangkaian gempa susulan masih berlangsung. BMKG melakukan pemantauan terhadap aktivitas sesar secara real-time serta memberikan pembaruan informasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan.
Di sisi penanganan bencana, Kepala BNPB Suharyanto mengatakan pemerintah terus mempercepat proses penanganan darurat, termasuk pendataan kerusakan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak. Ia meminta pendataan dilakukan secara paralel agar proses perbaikan dapat segera dimulai tanpa menunggu seluruh data selesai.
“Pendataan tidak perlu menunggu selesai semua, begitu ada data valid yang masuk, perbaikan langsung kita proses agar penanganan berjalan lebih cepat,” ujar Suharyanto.
Suharyanto juga menekankan pendataan rumah warga yang mengalami kerusakan menjadi salah satu prioritas dalam penanganan pascagempa. Selain permukiman, fasilitas umum yang terdampak juga akan ditangani setelah kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Menko PMK Pratikno mengatakan pemerintah telah berada di NTT sejak awal kejadian untuk melihat langsung kondisi lapangan sekaligus membahas percepatan pemulihan. Menurutnya, penanganan dilakukan secara terintegrasi di berbagai wilayah terdampak, termasuk daerah yang mengalami kendala akses.
“Sejak hari pertama kejadian, kita sudah berada di NTT untuk meninjau lapangan dan membahas percepatan pemulihan,” ujar Pratikno.
Dengan aktivitas gempa susulan yang masih tinggi, BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak serta mengikuti perkembangan informasi dari kanal resmi BMKG.
Rangkaian gempa susulan diperkirakan masih dapat berlangsung selama sekitar tiga hingga empat minggu ke depan. Pemantauan akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan aktivitas seismik di sekitar zona sumber gempa. (wg)
Komentar