Foto: Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan, Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Kirgistan Sadyr Japarov, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev dan Presiden Tajikistan Emomali Rakhmon memasuki aula sebelum pertemuan para pemimpin Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) ) negara-negara anggota di Kremlin di Moskow, Rusia, Senin, 16 Mei 2022. (Alexander Nemenov/Pool Photo via AP)
Sender.co.id - Nasib Organisasi
Perjanjian Keamanan Kolektif (Collective Security Treaty Organisation/CSTO)
menjadi sorotan. Cengkeraman Moskow atas aliansi NATO-nya Rusia ini disebut
tampak makin rapuh.
Analis menyebut, di tengah perang dengan Ukraina yang
berlangsung selama 3 tahun, Rusia tampak kehilangan peran historisnya sebagai
perantara kekuasaan utama di Asia Tengah dan Kaukasus lewat aliansi tersebut.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Nasib CSTO, aliansi militer
negara-negara bekas Soviet, menyoroti tantangan yang dihadapi Kremlin saat
berupaya mempertahankan dan memajukan pengaruh geopolitiknya di seluruh
Eurasia. Aliansi tersebut dibentuk pada tahun 1992 untuk mengisi kekosongan keamanan
yang ditinggalkan oleh runtuhnya Uni Soviet.
"Namun tiga dekade kemudian, blok tersebut berjuang
dengan masalah serius terkait daya saing dan kelangsungan hidup," kata
analis Armenia Hakob Badalyan, seperti dikutip dari AFP, Minggu
(22/9/2024).
Kesulitan Rusia di Asia Tengah dan Kaukasus sangat kontras
dengan keberhasilannya dalam menjalin dan memperdalam aliansi dengan
negara-negara seperti China, India, Iran, Korea Utara, dan beberapa negara
Afrika di tengah invasinya ke Ukraina.
Badalyan melihat perkembangan tersebut saling terkait.
"Dalam perang dengan Ukraina, Rusia memiliki sumber daya yang jauh lebih
sedikit untuk sepenuhnya memainkan perannya sebagai pemimpin militer-teknis
CSTO," katanya.
CSTO masih memiliki peran untuk dimainkan di kawasan
tersebut, meskipun gagasan untuk bertindak sebagai alternatif Rusia yang kuat
bagi NATO masih dipertanyakan.
Aliansi CSTO sendiri terdiri dari Belarusia, Kazakhstan,
Kirgistan, dan Tajikistan, bersama Rusia dan Armenia. Namun, secara perlahan,
aliansi ini mulai retak.
Armenia telah memboikot organisasi tersebut, meskipun tetap
menjadi anggota resmi. Negara itu menuduh CSTO, dan karenanya Moskow,
meninggalkannya di tengah konflik dengan musuh bebuyutannya Azerbaijan.
Ini bukan tantangan keanggotaan pertama yang dihadapi oleh
CSTO. Baku keluar pada tahun 1999, bersama tetangga Kaukasus, Georgia.
Uzbekistan mengikutinya pada tahun 2012. Baik Uzbekistan maupun Turkmenistan
mengabaikan seruan untuk bergabung kembali dengan aliansi itu tahun lalu.
Sementara itu, Rusia melihat Barat sebagai ancaman
eksistensial, negara-negara Asia Tengah dan Armenia memperkuat hubungan dengan
Amerika Serikat dan Eropa.
Selain Belarusia, tidak ada yang mendukung perang Moskow
terhadap Ukraina. Di sisi lain, Minsk, yang secara finansial, politik, ekonomi,
dan militer bergantung pada Moskow juga tidak mengakui klaim teritorial Rusia
atas Ukraina timur. (LF)
Komentar