Atasi Kabut Asap, Malaysia Minta Izin Indonesia untuk Operasi Hujan Buatan

Wangga Lasmi Damayanti
08 September 2026 12:28 WIB

Sender.co.id – Malaysia mendapat izin dari Indonesia untuk mengakses wilayah udara Indonesia apabila diperlukan dalam pelaksanaan Operasi Pembenihan Awan (OPA) untuk membantu menangani kabut asap lintas batas di kawasan Borneo.

Menteri Sumber Asli dan Kelestarian Alam Malaysia Datuk Seri Arthur Joseph Kurup mengatakan persetujuan tersebut diperoleh setelah pembahasan dengan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia Jumhur Hidayat. Menurut Arthur, Malaysia dapat memasuki ruang udara Indonesia apabila penerbangan dalam operasi pembenihan awan yang dilakukan di kawasan selatan Sarawak membutuhkan akses tersebut.

“Sekiranya operasi berkenaan memerlukan penerbangan memasuki ruang udara Indonesia, perkara itu telah dipersetujui antara kedua-dua negara,” kata Arthur.

Arthur mengatakan kerja sama Indonesia-Malaysia tidak hanya mencakup operasi pembenihan awan, tetapi juga pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan. Malaysia, kata dia, juga siap memberikan bantuan aset dan keahlian kepada Indonesia apabila diperlukan untuk menghadapi ancaman kabut asap lintas batas.

Dari pihak Indonesia, Berton Panjaitan, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, mengatakan komunikasi antara Indonesia dan Malaysia terus dilakukan. Menurut Berton, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama dalam pencegahan, pemantauan serta dukungan terhadap operasi pembenihan awan.

Berton juga mengatakan Malaysia telah menawarkan bantuan untuk penanganan kebakaran di Indonesia. Namun, saat itu Indonesia belum mengajukan permintaan resmi untuk bantuan aset pemadaman langsung seperti water bombing.

Sementara itu, Datuk Amar Douglas Uggah Embas, Timbalan Premier Sarawak sekaligus Ketua Jawatankuasa Pengurusan Bencana Negeri Sarawak, mengatakan operasi pembenihan awan dilakukan untuk meningkatkan cadangan air di sejumlah kawasan tangkapan air dan bendungan. Hujan yang dihasilkan juga diharapkan dapat membantu mengurangi dampak kabut asap yang melanda sejumlah wilayah Sarawak.

Douglas menyebut sasaran operasi antara lain Empangan Batang Ai, Murum dan Bakun, serta 13 kawasan tangkapan air. Namun, ia menegaskan keberhasilan operasi sangat bergantung pada keberadaan awan dan kondisi atmosfer yang sesuai.

“Kita berharap hujan akan membantu mengurangi kabut asap. Namun, kita tidak bisa menjamin kabut asap akan hilang karena kita tidak boleh melupakan dari mana sumber asap itu berasal,” kata Douglas.

Operasi tersebut kemudian diperpanjang hingga 7 September 2026. Douglas mengatakan perpanjangan dilakukan setelah operasi sebelumnya berhasil menghasilkan hujan di kawasan Bendungan Bakun dan Murum. Pada 6 September, kualitas udara di Serian juga mulai menunjukkan tren membaik, meski masih berada dalam kategori tidak sehat.

Badan Pengurusan Bencana Negara Malaysia (NADMA) dalam laporan operasionalnya pada 8 September menyebut operasi tambahan dilakukan karena kondisi cadangan air di sejumlah bendungan masih membutuhkan peningkatan. Pada operasi 6 September, empat tangki larutan air garam digunakan dengan sasaran pembenihan di sekitar Empangan Batang Ai dan Empangan Murum. Datu Felicia Tan Ya Hua, Timbalan Setiausaha Kerajaan Negeri Sarawak, turut hadir dalam pelaksanaan operasi tersebut.

Di sisi lain, Abdul Wahab Rahim, Pengarah Unit Keselamatan dan Penguatkuasaan Sarawak sekaligus Setiausaha Jawatankuasa Pengurusan Bencana Negeri Sarawak, serta Arjunaidi Ismail, Ketua Penolong Pengarah Kanan Seksyen Pelaksanaan Operasi NADMA, turut terlibat dalam koordinasi operasi bersama sejumlah instansi terkait.

Operasi pembenihan awan ini berlangsung di tengah memburuknya kabut asap di kawasan Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan. Berdasarkan data yang disampaikan Douglas Uggah, pada 6 September terdapat 184 titik panas di wilayah Kalimantan, Indonesia, sementara tidak ditemukan titik panas di Sarawak berdasarkan data ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC).

Dengan demikian, informasi mengenai “Malaysia meminta izin untuk membuat hujan buatan di Kalimantan” perlu diluruskan. Malaysia memang memperoleh persetujuan Indonesia untuk mengakses ruang udara Indonesia apabila diperlukan dalam penerbangan operasi pembenihan awan, tetapi sasaran utama operasi tersebut berada di wilayah Sarawak, terutama kawasan bendungan dan tangkapan air. (wg)

Komentar