KAI berlakukan jadwal perjalanan baru KA di Sumatra. Foto: Dok. ANTARA News Sumatera Selatan
Sender.co.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung mulai mematangkan persiapan menyusul kembali dicanangkannya proyek Trans-Sumatera Railway, jaringan kereta api yang dirancang menghubungkan Bakauheni, Lampung hingga Banda Aceh sepanjang sekitar 1.400 kilometer. Proyek tersebut menjadi salah satu agenda strategis pemerintah pusat untuk memperkuat konektivitas antarwilayah di Pulau Sumatera sekaligus menekan biaya logistik nasional.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung Bambang Sumbogo mengatakan, proyek yang kembali dihidupkan Presiden Prabowo Subianto itu kini mulai menunjukkan perkembangan setelah memasuki pembahasan teknis bersama pemerintah pusat.
"Alhamdulillah ini ada program dari Bapak Presiden untuk menggiatkan kembali proyek Trans-Sumatera Railway. Dengan adanya pencanangan tersebut berarti proyek ini sudah mulai bergerak. Mudah-mudahan tahun depan sudah masuk tahap Feasibility Study (FS) atau studi kelayakan," ujar Bambang Sumbogo, Minggu (2/8/2026).
Menurut Bambang, apabila seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, studi kelayakan (FS) ditargetkan mulai dilaksanakan pada 2027. Setelah itu, pemerintah akan melanjutkan ke tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar pembangunan fisik jalur kereta lintas Sumatera.
Sebagai bentuk kesiapan daerah, Pemerintah Provinsi Lampung telah mengikuti sejumlah Focus Group Discussion (FGD) bersama pemerintah pusat untuk membahas pengembangan jalur Trans-Sumatera Railway.
Bambang menjelaskan bahwa forum tersebut menjadi wadah sinkronisasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta berbagai pemangku kepentingan terkait rencana pembangunan jaringan kereta api lintas Sumatera.
"Sudah ada beberapa FGD yang kami ikuti. Pembahasannya akan terus diperbarui dan dilanjutkan melalui FGD berikutnya," kata Bambang.
Berbeda dengan membangun jalur baru secara keseluruhan, konsep Trans-Sumatera Railway akan mengintegrasikan sejumlah jaringan rel yang telah beroperasi di beberapa provinsi seperti Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh.
Menurut Bambang, jalur-jalur yang sudah tersedia nantinya akan disambungkan sehingga membentuk sistem transportasi kereta api yang terintegrasi dari ujung selatan hingga utara Pulau Sumatera.
"Harapannya nanti tinggal disambungkan. Ke depan jaringan ini juga akan terkoneksi dengan Trans-Java Railway, bahkan dalam jangka panjang menjadi bagian dari jaringan Trans-Asia Railway," jelasnya.
Dengan konsep tersebut, pembangunan dinilai lebih efisien karena memanfaatkan infrastruktur eksisting yang telah tersedia di beberapa wilayah.
Berdasarkan pembahasan awal, pembangunan Trans-Sumatera Railway diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp350 triliun. Namun angka tersebut masih bersifat estimasi dan akan dihitung kembali setelah proses studi kelayakan dan penyusunan DED selesai dilakukan.
Selain melayani angkutan penumpang, jalur kereta lintas Sumatera juga diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi logistik nasional. Kehadiran jaringan tersebut diharapkan mampu memangkas biaya transportasi barang, mempercepat distribusi hasil industri dan pertanian, serta meningkatkan daya saing ekonomi Pulau Sumatera.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mencanangkan kembali pembangunan Trans-Sumatera Railway saat meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang pada 30 Juli 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menugaskan Kementerian Perhubungan bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mempercepat persiapan pembangunan jalur kereta lintas Sumatera yang menghubungkan Bakauheni hingga Banda Aceh.
Prabowo menilai proyek ini penting untuk memperkuat konektivitas antarwilayah, mempercepat mobilitas masyarakat, menekan biaya logistik nasional, sekaligus mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera.
Bagi Provinsi Lampung, proyek ini memiliki nilai strategis karena Bakauheni akan menjadi pintu gerbang utama jaringan Trans-Sumatera Railway. Posisi tersebut diperkirakan memperkuat peran Lampung sebagai simpul transportasi yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera.
Jika terealisasi, proyek ini diharapkan tidak hanya meningkatkan konektivitas antardaerah, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor perdagangan, industri, pariwisata, hingga investasi di wilayah Lampung dan provinsi-provinsi lain di Sumatera. (it/dv)
Komentar