Bukan Meteor, Fenomena Cahaya Beruntun di Langit Indonesia Ternyata Sampah Antariksa

Divson
05 April 2026 07:14 WIB

Sender.co.id - Fenomena cahaya beruntun yang terlihat di langit sejumlah wilayah Indonesia pada Sabtu malam (4/4/2026) sekitar pukul 20.00 WIB dipastikan bukan meteor, melainkan sampah antariksa yang masuk kembali ke atmosfer bumi.


Fenomena tersebut dilaporkan oleh warga di berbagai daerah, termasuk Lampung, yang melihat sejumlah cahaya terang bergerak beruntun dengan ekor kemerahan di langit malam.


Berdasarkan penjelasan dari Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL), objek tersebut merupakan re-entry atau masuknya kembali sampah antariksa ke atmosfer bumi.


Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL) sendiri merupakan fasilitas milik Institut Teknologi Sumatera (ITERA) yang berfokus pada pengamatan, penelitian, serta edukasi terkait fenomena astronomi dan kerap menjadi rujukan ilmiah di wilayah Lampung.


Pihak OAIL ITERA menyebut, objek yang terlihat merupakan pecahan badan roket CZ-3B R/B milik Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang terbakar saat memasuki atmosfer.


“Kemungkinan barang tersebut adalah re-entry dari sampah antariksa, bekas badan roket CZ-3B R/B dari RRT,” demikian keterangan yang disampaikan OAIL ITERA kepada Sender.co.id.


Secara visual, fenomena ini tampak seperti cahaya beruntun dengan ekor kemerahan di langit. Hal tersebut terjadi karena gesekan dengan atmosfer bumi yang memicu panas tinggi hingga menimbulkan efek terbakar.


OAIL ITERA juga menjelaskan bahwa dari bentuk dan lintasannya, objek tersebut memiliki karakteristik yang mirip dengan jalur orbit sampah antariksa.


“Dilihat dari tipikal bentuknya dan juga lintasannya, mirip dengan orbit sampah antariksa tersebut,” lanjutnya.


Fenomena ini sempat membuat warga heboh dan memicu berbagai spekulasi, mulai dari hujan meteor hingga dugaan benda asing. Namun dengan adanya penjelasan resmi ini, dapat dipastikan bahwa kejadian tersebut merupakan fenomena re-entry yang memang sesekali terjadi.


Meski terlihat dramatis, peristiwa ini umumnya tidak berbahaya karena sebagian besar material akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai permukaan bumi. (dv)

Komentar