Menara bade menjulang tinggi menjadi salah satu ikon dalam prosesi Ngaben Massal di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan. Tradisi sakral umat Hindu tersebut diikuti ratusan keluarga dan menjadi salah satu pelaksanaan Ngaben terbesar di luar Pulau Bali. Foto: Tiktok/DNaNDoe
Sender.co.id – Jika mendengar kata Ngaben, sebagian besar masyarakat mungkin langsung teringat Pulau Bali. Namun siapa sangka, salah satu prosesi Ngaben Massal terbesar di Indonesia justru digelar di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan. Tradisi yang diwariskan oleh masyarakat Hindu Bali di daerah transmigrasi tersebut kembali digelar pada tahun 2026 dengan melibatkan ratusan keluarga dan ribuan masyarakat.
Ngaben merupakan bagian dari Pitra Yadnya, yakni upacara suci dalam ajaran Hindu sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada leluhur. Melalui prosesi kremasi, umat Hindu meyakini roh orang yang telah meninggal akan dibebaskan dari ikatan duniawi untuk melanjutkan perjalanan menuju alam berikutnya sesuai ajaran dharma.
Pada pelaksanaan Ngaben Massal 2026, sebanyak 153 jenazah orang dewasa dan 117 jenazah anak-anak mengikuti rangkaian upacara. Seluruh prosesi dilaksanakan secara gotong royong oleh masyarakat Desa Balinuraga, mulai dari persiapan sarana upacara, pembangunan bade atau menara pengusung jenazah, hingga prosesi kremasi yang berlangsung khidmat.
Kemegahan upacara terlihat dari tingginya bade berhias ukiran khas Bali, iringan gamelan, pakaian adat yang dikenakan ribuan peserta, hingga keterlibatan masyarakat lintas generasi. Suasana sakral berpadu dengan semangat kebersamaan menjadikan Ngaben Massal Balinuraga tidak hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga salah satu kekayaan budaya yang terus dijaga di Provinsi Lampung.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Selatan, Ahmad Rifai, yang menghadiri salah satu rangkaian prosesi Upasaksi, menyampaikan bahwa Ngaben merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal sekaligus wujud bakti kepada leluhur.
"Upacara Ngaben ini adalah wujud bhakti, penghormatan terakhir, dan pelepasan jasad secara suci agar roh dapat kembali kepada Sang Pencipta," ujar Ahmad Rifai.
Menurut Ahmad Rifai, tradisi tersebut juga menjadi bukti bahwa keberagaman budaya dan agama di Indonesia dapat tumbuh berdampingan dengan harmonis. Ia mengapresiasi seluruh panitia, tokoh adat, serta masyarakat yang terus menjaga kelestarian tradisi tersebut melalui semangat gotong royong dan toleransi.
Sementara itu, tokoh masyarakat Hindu Balinuraga menjelaskan bahwa pelaksanaan Ngaben secara massal dipilih agar dapat meringankan beban keluarga. Biaya penyelenggaraan ditanggung bersama melalui sistem gotong royong sehingga umat tetap dapat menjalankan kewajiban agama tanpa mengurangi nilai kesakralan prosesi.
Selain menjadi ritual keagamaan, Ngaben Massal Balinuraga kini juga menjadi daya tarik budaya yang menyedot perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Ribuan pengunjung datang setiap penyelenggaraan untuk menyaksikan secara langsung tradisi yang memperlihatkan kuatnya identitas budaya Bali yang telah hidup dan berkembang di Lampung Selatan selama puluhan tahun. Keberadaan Desa Balinuraga pun menjadi bukti bahwa warisan budaya Nusantara tidak hanya tumbuh di daerah asalnya, tetapi juga tetap lestari di tanah perantauan. (wg)
Komentar