Sejumlah pencari kerja mengikuti proses rekrutmen dalam kegiatan bursa kerja. Fenomena ini menjadi sorotan di tengah data Sakernas Mei 2026 yang mencatat lebih dari 1 juta pengangguran berlatar belakang pendidikan sarjana di Indonesia. Foto: Jawapos
Sender.co.id – Jumlah pengangguran berlatar belakang pendidikan sarjana di Indonesia kembali menjadi sorotan. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 yang dikutip dalam pemberitaan terbaru, terdapat 1.033.182 penganggur berlatar belakang sarjana atau sekitar 14,31 persen dari total pengangguran.
Secara keseluruhan, jumlah pengangguran nasional pada Mei 2026 berada di kisaran 7,22 juta orang. Artinya, meski jumlah pengangguran secara nasional mengalami penurunan, persoalan penyerapan tenaga kerja berpendidikan tinggi masih menjadi pekerjaan rumah.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa memiliki pendidikan tinggi belum otomatis menjamin seseorang dapat segera masuk ke dunia kerja. Persoalan kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, ketersediaan lapangan kerja, hingga kualitas tenaga kerja menjadi sejumlah faktor yang ikut disorot.
Anggota Komisi IX DPR RI Zainul Munasichin meminta pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap persoalan pengangguran, khususnya di kalangan lulusan perguruan tinggi.
“Pemerintah harus serius menangani persoalan pengangguran ini. Yang pertama tentu harus mendiagnosis faktor utama penyebab pengangguran, khususnya di kalangan sarjana,” ujar Zainul.
Menurut Zainul, salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah skill mismatch, yaitu kondisi ketika keterampilan yang dimiliki pencari kerja tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
Ia juga menilai pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi perlu diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi.
“Ekspansi jumlah lulusan sarjana harus diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja formal. Kalau tidak, kesenjangan antara jumlah pencari kerja dengan kesempatan kerja akan semakin besar,” katanya.
Persoalan pengangguran sarjana juga menyoroti pentingnya hubungan antara perguruan tinggi dan dunia kerja. Kurikulum pendidikan dinilai perlu terus disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan industri agar lulusan memiliki kompetensi yang lebih relevan ketika memasuki pasar kerja.
Zainul mendorong perguruan tinggi memperkuat kerja sama dengan dunia usaha dan industri sehingga proses pendidikan tidak berhenti pada pemberian gelar, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa menghadapi kebutuhan pekerjaan yang nyata.
“Perguruan tinggi harus aktif menjalin kerja sama dengan pihak industri. Link and match antara kampus dan dunia usaha harus benar-benar diwujudkan,” jelasnya.
Masalahnya pun tidak hanya soal lulusan yang sama sekali belum bekerja. Sebagian tenaga kerja berpendidikan tinggi juga menghadapi persoalan ketika pekerjaan yang diperoleh tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan maupun tingkat kualifikasinya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah, perguruan tinggi dan dunia industri untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih terhubung. Pertumbuhan jumlah lulusan perguruan tinggi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi dan penciptaan lapangan kerja yang berkualitas.
Dengan jumlah pengangguran sarjana yang telah menembus lebih dari satu juta orang, persoalan ini menjadi pengingat bahwa gelar akademik saja belum cukup untuk memastikan lulusan terserap pasar kerja. (wg)
Komentar