Prabowo melakukan cek buku pelajaran siswa. Foto: Dok. Instagram Sekretariat Kabinet
Sender.co.id – Presiden Prabowo Subianto meminta pemerintah melakukan evaluasi terhadap buku pelajaran yang digunakan peserta didik mulai jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA). Evaluasi tersebut dilakukan setelah Prabowo meninjau langsung sejumlah buku pelajaran dan menemukan beberapa aspek yang dinilai masih perlu diperbaiki.
Pemerintah kini mematangkan langkah pembaruan buku ajar nasional, bukan hanya dari sisi materi, tetapi juga kualitas fisik, desain, ukuran huruf, hingga daya tahan bahan buku. Kebijakan tersebut disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pendidikan sekaligus mendorong budaya membaca sejak usia dini.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, perhatian Presiden terhadap kualitas buku pelajaran bermula ketika Prabowo melakukan kunjungan ke sejumlah sekolah dan melihat langsung buku yang digunakan para siswa.
Dalam pemeriksaan tersebut, Prabowo menemukan buku yang bahannya dinilai mudah rusak. Bahkan, terdapat pula buku yang sudah mengalami kerusakan. Selain persoalan bahan, ukuran tulisan di dalam buku juga menjadi perhatian karena dinilai terlalu kecil, khususnya bagi siswa SD.
“Saat mengecek buku pelajaran, itu beliau lihat satu persatu, kemudian kok ada yang bahannya mudah rusak, ada yang sudah rusak juga, kemudian tulisannya kecil-kecil,” ujar Teddy Indra Wijaya kepada awak media, Jumat (7/8/2026).
Teddy menjelaskan, ukuran tulisan yang terlalu kecil membuat anak-anak, terutama siswa SD, harus membaca dari jarak yang sangat dekat. Temuan tersebut kemudian mendorong Presiden untuk meminta pemeriksaan terhadap buku pelajaran secara lebih menyeluruh, mulai dari tingkat SD hingga SMA.
Tidak berhenti pada pemeriksaan buku yang saat ini digunakan di Indonesia, Prabowo juga meminta pemerintah melakukan perbandingan dengan buku ajar dari negara-negara tetangga.
Menurut Teddy, buku yang digunakan di Indonesia terlebih dahulu akan diperiksa secara keseluruhan. Hasil pemeriksaan tersebut kemudian menjadi bahan pembanding untuk melihat aspek-aspek yang masih dapat ditingkatkan.
“Awalnya yang punya kita dulu, dicek dulu semuanya, beliau lihat satu-satu. Kemudian coba dibandingkan ke negara tetangga,” kata Teddy.
Pemerintah menyebut perbandingan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas buku pelajaran nasional, sehingga buku yang digunakan siswa tidak hanya memenuhi kebutuhan pembelajaran dari sisi isi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih baik.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pembaruan yang diinginkan Presiden tidak hanya berkaitan dengan materi atau isi buku. Aspek fisik juga menjadi perhatian.
Buku pelajaran ke depan diharapkan memiliki tampilan yang lebih menarik, ukuran huruf yang lebih nyaman dibaca, serta menggunakan bahan yang lebih berkualitas dan tahan lama.
“Penginnya besar, menarik, tulisan tidak kecil-kecil, bahannya pun juga yang bagus supaya itu bisa bertahan dalam sekian waktu,” ujar Prasetyo Hadi.
Menurut Prasetyo, buku dengan kualitas fisik yang lebih baik juga memungkinkan buku tersebut digunakan dalam waktu yang lebih panjang. Ia mencontohkan kemungkinan buku tidak hanya digunakan oleh satu siswa, tetapi dapat diwariskan atau digunakan kembali oleh adik kelas.
Dengan demikian, pembaruan buku pelajaran diharapkan tidak sekadar menghasilkan buku baru, tetapi juga menghadirkan bahan ajar yang lebih awet dan dapat digunakan secara lebih efektif.
Pembaruan buku ajar juga berkaitan dengan upaya pemerintah meningkatkan kemampuan siswa Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
Prasetyo menyebut Presiden memberikan perhatian terhadap penguatan karakter kebangsaan, peningkatan kemampuan sains dan teknologi, serta kemampuan bahasa asing.
Matematika menjadi salah satu bidang yang disoroti dalam upaya mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi. Sementara kemampuan bahasa Inggris dipandang penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi kompetisi global.
“Mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, basic-nya adalah salah satu contohnya adalah matematika. Yang ketiga, untuk menghadapi kompetisi global, salah satu concern beliau adalah kemampuan bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Inggris,” kata Prasetyo.
Artinya, evaluasi buku pelajaran tidak hanya diarahkan pada tampilan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas materi pembelajaran yang diterima siswa.
Selain pembaruan buku pelajaran, pemerintah juga ingin mendorong kembali kebiasaan membaca di lingkungan pendidikan.
Prasetyo mengatakan perhatian Presiden terhadap budaya membaca tidak terlepas dari kebiasaan membaca yang telah ditanamkan dalam lingkungan keluarganya sejak kecil. Pemerintah kemudian berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk kembali menggalakkan budaya membaca di sekolah.
Menurut Prasetyo, kebiasaan membaca dapat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun sumber daya manusia sejak usia dini.
Selain buku pelajaran, pemerintah juga menyiapkan buku tulis bagi siswa, khususnya kelas 1 hingga 3 SD.
Prasetyo mengatakan desain buku tulis tersebut dibuat dengan garis yang lebih besar. Tujuannya agar anak-anak yang sedang belajar menulis dapat terbiasa menghasilkan tulisan dengan ukuran yang sesuai.
Buku tersebut memiliki sejumlah desain, termasuk buku polos dan buku dengan gambar. Pemerintah menyebut buku tulis itu akan dibagikan kepada peserta didik, terutama di sekolah-sekolah negeri.
Prasetyo juga menegaskan bahwa penggunaan kembali buku fisik bukan berarti pemerintah membawa pendidikan kembali ke masa lalu. Menurutnya, sejumlah negara justru mulai mengurangi penggunaan gawai dan kembali membiasakan anak menggunakan buku fisik.
“Selain melatih kemampuan menulis, juga diharapkan menumbuhkan kepercayaan diri, telaten, dan rajin dalam mencatat,” ujar Prasetyo.
Rencana evaluasi buku pelajaran SD hingga SMA menunjukkan bahwa pemerintah ingin melihat kembali kualitas bahan ajar secara menyeluruh. Persoalan yang ditemukan Presiden mencakup bahan buku yang mudah rusak dan ukuran tulisan yang kurang nyaman dibaca, sementara pemerintah juga menargetkan peningkatan kualitas materi, desain, serta ketahanan buku.
Pemerintah selanjutnya akan melakukan pemeriksaan dan perbandingan terhadap buku-buku yang digunakan di Indonesia dengan buku dari negara lain. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar untuk melakukan perbaikan agar buku pelajaran lebih layak, menarik, tahan lama, dan mendukung proses belajar siswa. (it/dv)
Komentar