Muhammadiyah Punya Klinik Apung Rp2 Miliar untuk Layani Kesehatan di Pulau Terpencil

Wangga Lasmi Damayanti
12 August 2026 20:40 WIB

Sender.co.id — Muhammadiyah melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) memiliki Klinik Apung Said Tuhuleley (KAST), sebuah fasilitas kesehatan berbasis kapal yang dirancang untuk menjangkau masyarakat di wilayah kepulauan dan pulau-pulau terpencil, khususnya di Indonesia Timur.

Klinik apung tersebut dibangun menggunakan basis kapal yacht berbahan fiberglass dengan panjang sekitar 15 meter. Pembangunannya menghabiskan dana sekitar Rp2 miliar, yang dihimpun melalui donasi masyarakat melalui Lazismu. Kapal ini dilengkapi ruang tindakan medis dan ruang pemeriksaan untuk mendukung pelayanan kesehatan di wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Klinik Apung Said Tuhuleley diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Ambon, Maluku, pada 24 Februari 2017, bertepatan dengan pembukaan Sidang Tanwir Muhammadiyah. Peresmian ditandai dengan pembunyian sirine dan penandatanganan prasasti.

Direktur Utama Lazismu saat itu, Andar Nubowo, mengatakan keberadaan klinik apung tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan layanan kesehatan bagi masyarakat yang selama ini sulit memperoleh akses medis.

“Klinik Apung Said Tuhuleley (KAST) bukan khayalan, tetapi hasil dari mimpi untuk kemanusiaan bersama,” ujar Andar Nubowo.

Nama Said Tuhuleley diambil dari tokoh Muhammadiyah asal Saparua, Maluku, yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap pemberdayaan masyarakat miskin dan kelompok marginal. Pemilihan nama tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap kiprahnya dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Sehari setelah diresmikan, KAST langsung menjalankan misi pertamanya. Kapal tersebut berangkat dari Ambon menuju wilayah Saparua dan Haruku, Maluku, untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat.

Dalam pelayaran perdana itu, KAST membawa tim medis yang terdiri dari tiga dokter, lima perawat, dan satu apoteker dari Rumah Sakit Islam Jakarta. Tim tersebut memberikan pelayanan kesehatan dan bakti sosial kepada masyarakat di wilayah kepulauan.

Saparua dipilih sebagai salah satu tujuan awal karena wilayah tersebut merupakan tempat kelahiran Said Tuhuleley. Jaraknya sekitar 50 mil dari Ambon, sehingga keberadaan kapal klinik diharapkan dapat membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.

KAST dirancang sebagai bagian dari misi kemanusiaan yang terbuka bagi masyarakat secara luas. Ketua Badan Pengurus Lazismu PP Muhammadiyah saat itu, Hilman Latief, menegaskan bahwa layanan kesehatan tersebut tidak ditujukan hanya untuk warga Muhammadiyah atau umat Islam.

“Pelayanan ini bukan hanya buat warga Muhammadiyah atau umat Islam, melainkan juga untuk semua orang,” ujar Hilman Latief.

Selain layanan kesehatan, program klinik apung Muhammadiyah juga diarahkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat kepulauan melalui berbagai kegiatan sosial. Program tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusi Muhammadiyah dalam menjangkau masyarakat di wilayah 3T (terluar, terdepan, dan tertinggal).

Keberadaan Klinik Apung Said Tuhuleley menunjukkan bagaimana fasilitas berbasis kapal dapat menjadi alternatif untuk memperluas akses pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan. Bagi masyarakat yang tinggal di pulau-pulau dengan keterbatasan fasilitas medis, kapal tersebut menjadi sarana untuk mendatangkan tenaga kesehatan langsung ke wilayah mereka. (wg)

Komentar