Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Dok. ANTARA
Sender.co.id – Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin resmi masuk dalam daftar calon prospektif Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk periode 2027–2032. Nama Budi tercantum dalam laman resmi WHO sebagai kandidat yang diusulkan Pemerintah Indonesia.
Budi menjadi salah satu dari empat nama yang saat ini masuk dalam daftar calon prospektif. Tiga kandidat lainnya yakni Dr Hanan Mohammed Al-Kuwari yang diusulkan Qatar, Dr Hanan Balkhy dari Arab Saudi, serta Dr Hans Henri P. Kluge yang diusulkan Belgia.
Pencalonan tersebut sebelumnya telah menjadi perhatian setelah muncul kabar mengenai peluang Budi untuk menduduki posisi pimpinan tertinggi WHO. Saat isu tersebut mencuat, Budi menegaskan bahwa pencalonan Dirjen WHO bukan keputusan pribadi, melainkan harus diajukan secara resmi oleh negara anggota.
“Saya akan mengonfirmasi setelah negara mengirimkan surat resmi, karena menjadi Direktur Jenderal WHO bukan pengajuan individu, melainkan harus diajukan oleh negara.”
Pernyataan tersebut disampaikan Budi ketika isu pencalonannya mulai mencuat pada pertengahan 2026. Kini, nama Budi telah resmi tercantum dalam daftar kandidat prospektif WHO setelah Pemerintah Indonesia mengajukan pencalonannya.
Budi sebelumnya juga menanggapi kabar mengenai peluang dirinya menjadi kandidat Dirjen WHO dengan santai. Ketika ditanya mengenai isu tersebut pada Juni 2026, ia sempat menjawab dengan candaan.
“Jadi ikatan wartawan saja, hehe.”
Pernyataan itu disampaikan sebelum pencalonan Indonesia secara resmi tercatat dalam proses pemilihan WHO.
Masuknya Budi dalam daftar calon prospektif belum berarti dirinya telah terpilih sebagai Dirjen WHO. Proses pemilihan masih akan berlangsung dalam beberapa tahapan.
WHO menetapkan batas pengajuan kandidat pada 24 September 2026 pukul 18.00 CEST. Setelah itu, daftar kandidat akan diumumkan dan proses forum kandidat akan dimulai pada November 2026. Dewan Eksekutif WHO kemudian akan melakukan penyaringan hingga menetapkan maksimal tiga kandidat untuk diajukan kepada World Health Assembly pada Januari 2027.
Pemilihan akhir akan dilakukan dalam Sidang World Health Assembly pada Mei 2027. Kandidat terpilih dijadwalkan mulai menjalankan masa jabatan pada 16 Agustus 2027, menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa terdapat tiga tahapan utama dalam proses tersebut, mulai dari pengajuan kandidat, penyaringan oleh Executive Board, hingga pemilihan oleh seluruh negara anggota WHO melalui World Health Assembly.
“Ada 34 anggota WHO Executive Board periode ini, sayangnya sekarang tidak ada wakil Indonesia di dalamnya.”
Tjandra juga mengingatkan bahwa posisi Dirjen WHO pada akhirnya harus mengutamakan kepentingan kesehatan global, bukan kepentingan negara asal kandidat.
“Begitu menjadi staf WHO maka kami berpikir dan bertindak adalah untuk kesehatan dunia, dan tidak hanya mementingkan satu negara tertentu.”
Menurut Tjandra, prinsip independensi dan orientasi global menjadi hal penting bagi siapa pun yang nantinya memimpin organisasi kesehatan dunia tersebut.
Pencalonan Budi juga menarik perhatian karena latar belakangnya berbeda dari mayoritas pemimpin WHO sebelumnya. Budi merupakan seorang profesional yang memiliki pengalaman panjang di bidang perbankan dan bisnis sebelum menjabat sebagai Menteri Kesehatan sejak Desember 2020. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri dan kemudian memimpin PT Inalum.
Di bidang kesehatan global, Budi dalam beberapa tahun terakhir aktif membawa isu ketahanan sistem kesehatan, produksi vaksin dan obat, serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi. WHO juga mencatat keterlibatannya dalam pembahasan penguatan produksi lokal vaksin, obat, diagnostik, dan alat kesehatan.
Dalam salah satu forum kesehatan global, Budi menekankan pentingnya pemerataan akses terhadap produk kesehatan.
“Indonesia is very committed not only to develop local capability, but also to share this capability with other countries.”
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembahasan mengenai penguatan kapasitas produksi lokal dan ketahanan kesehatan global.
Jika nantinya berhasil melewati proses penyaringan dan terpilih dalam pemungutan suara World Health Assembly, Budi akan menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin WHO. Namun, hingga saat ini proses tersebut masih berada pada tahap awal dan persaingan masih terbuka bagi kandidat lain. (it/dv)
Komentar