Rumah sakit lapangan yang dibangun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di Nusa Tenggara Timur untuk menangani korban gempa. Fasilitas darurat tersebut dilengkapi ruang operasi untuk memastikan pasien yang membutuhkan tindakan bedah tetap mendapat penanganan meski sejumlah fasilitas kesehatan terdampak gempa. Foto: Tribunnews.com
Sender.co.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempercepat pembangunan rumah sakit lapangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk memastikan pelayanan kesehatan bagi korban gempa bumi magnitudo 7,7 tetap berjalan. Salah satu fasilitas tersebut dibangun di Stadion Golo Dukal, Kabupaten Manggarai, untuk mendukung pelayanan RSUD Ruteng yang terdampak gempa.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan rumah sakit lapangan tersebut dilengkapi sejumlah tenda, termasuk fasilitas khusus untuk ruang operasi. Fasilitas itu disiapkan karena kondisi bangunan rumah sakit utama terdampak gempa sehingga diperlukan tempat pelayanan medis yang aman dan dapat digunakan untuk tindakan bedah.
“Di sini sudah kita pasang lima tenda. Empat untuk pasien, masing-masing bisa menampung 20 pasien, kemudian satu khusus untuk ruang operasi karena ruangnya steril dan bisa dibuat terisolasi,” ujar Budi pada Rabu (19/8/2026).
Selain ruang operasi, rumah sakit lapangan tersebut dilengkapi tenda Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan tiga tenda rawat inap dengan kapasitas awal sekitar 60 tempat tidur. Kemenkes berencana menambah tenda sehingga kapasitas rawat inap dapat mencapai sedikitnya 100 tempat tidur.
Budi menjelaskan ruang operasi dirancang sebagai area steril yang dapat diisolasi untuk menjaga keselamatan pasien dan mencegah risiko infeksi selama tindakan pembedahan. Fasilitas tersebut dilengkapi meja operasi, lampu operasi, serta area untuk menyiapkan peralatan medis.
“Ini ruang operasi. Nanti disterilisasi. Ruang ini steril dan bisa diisolasi. Fasilitas seperti ini pernah digunakan saat bencana di Sumedang dan juga bencana di Aceh,” kata Budi.
Keberadaan ruang operasi menjadi penting karena korban gempa banyak membutuhkan penanganan trauma, termasuk pasien dengan patah tulang akibat tertimpa bangunan. Dengan fasilitas tersebut, pasien dapat memperoleh tindakan medis tanpa harus menunggu rumah sakit utama kembali berfungsi secara normal.
Ketua Satgas Bencana Kemenkes Samarjaya mengatakan rumah sakit lapangan tidak hanya dibangun di Ruteng. Fasilitas serupa juga dioperasikan di Rumah Sakit Aeramo, Kabupaten Nagekeo, untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa.
“Kami laporkan ada 2 rumah sakit lapangan yang kita kirimkan. Itu di Rumah Sakit Ruteng, karena cukup parah. Jadi kita sudah mendirikan rumah sakit lapangan, dan hari ini telah melakukan operasi di tenda di rumah sakit lapangan,” ujar Samarjaya dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (19/8/2026).
Samarjaya menambahkan, rumah sakit lapangan di Aeramo juga telah beroperasi dan pada hari yang sama sudah melakukan tindakan operasi terhadap pasien. Fasilitas tersebut digunakan untuk membantu rumah sakit maupun puskesmas yang terdampak gempa dan tidak dapat memberikan pelayanan secara optimal.
Untuk memperkuat pelayanan, Kemenkes juga mengerahkan tenaga medis Emergency Medical Team (EMT) ke sejumlah fasilitas kesehatan yang sulit dijangkau. Tim tersebut bekerja sama dengan Basarnas untuk memberikan pelayanan medis sekaligus mengevakuasi pasien yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit.
Kemenkes melakukan pemetaan terhadap kondisi rumah sakit dan puskesmas, jumlah korban, tingkat keparahan luka, jumlah pengungsi, serta lokasi titik pengungsian untuk menentukan prioritas penanganan kesehatan di wilayah Flores yang terdampak gempa. Ketersediaan obat-obatan untuk beberapa hari ke depan juga dipastikan masih aman, dengan tambahan logistik dapat dimobilisasi apabila kebutuhan meningkat.
Selain membangun rumah sakit lapangan, Kemenkes juga melakukan penilaian terhadap bangunan fasilitas kesehatan yang terdampak. Di Rumah Sakit Komodo, misalnya, pasien telah kembali masuk ke ruang perawatan setelah hasil pemeriksaan menyatakan bangunan tersebut aman digunakan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari respons darurat pemerintah untuk menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa NTT. Dengan pengoperasian rumah sakit lapangan, mobilisasi tenaga medis, serta sistem rujukan, pasien yang membutuhkan penanganan darurat maupun operasi tetap dapat memperoleh pelayanan meski sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. (wg)
Komentar