Pada zaman dahulu, di Aceh, tepatnya di sekitar Krueng atau Sungai Peusangan, tinggal seorang janda tua bernama Mak Minah. Ia hidup bersama putra tunggalnya, Amat Rhang, dalam kondisi kemiskinan. Amat Rhang menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga karena ibunya sudah tidak lagi kuat bekerja. Ia bekerja sebagai buruh tani di desa dan mereka hanya mampu makan dua kali sehari. Seiring waktu, Amat Rhang berkeinginan merantau ke negeri seberang untuk mengubah nasibnya. Setelah berdiskusi dengan ibunya, Mak Minah yang awalnya tidak ingin ditinggal akhirnya memberikan izin kepada Amat Rhang untuk merantau.
Amat Rhang kemudian berangkat merantau menggunakan kapal yang singgah di desanya. Sebelum berangkat, Mak Minah berpesan agar ia tidak melupakan kewajibannya untuk berbuat baik dan beribadah. Amat Rhang membawa nasihat ibunya sebagai bekal dalam perantauannya. Setibanya di negeri seberang, ia diterima bekerja sebagai kuli angkut oleh seorang saudagar kaya. Di sana, Amat Rhang dikenal sebagai pekerja yang baik, taat beribadah, dan jujur. Ia akhirnya menikah dengan putri saudagar kaya tersebut dan mewarisi usaha dagangnya.
Setelah beberapa waktu, Amat Rhang, yang kini menjadi seorang bangsawan kaya, merasa rindu kampung halaman dan keluarganya. Ia memutuskan untuk pulang bersama istri dan pengawalnya. Mak Minah yang mendengar kabar kepulangan anaknya sangat bersemangat menunggu di dermaga bersama seluruh penduduk desa. Namun, ketika kapal Amat Rhang bersandar, ia tidak mengakui ibunya. Amat Rhang merasa malu dan meminta pengawalnya untuk menyingkirkan Mak Minah. Ketika ibunya diusir, ia melemparkan kutukan kepada Amat Rhang. Tak lama setelah kapal berlayar, badai besar datang dan kapal beserta rombongannya terkutuk menjadi sebuah bukit, yang sekarang dikenal sebagai Bukit Lamreh di Aceh Besar. (DY)
Komentar