Cerita Rakyat 38 Provinsi, Kepulauan Riau: Putri Pandan Berduri

Divya Naila
20 September 2024 14:32 WIB

Sender.co.id - Pada zaman dahulu, di Pulau Bintan, Kepulauan Riau, hiduplah Suku Laut yang dipimpin oleh seorang pemimpin bijaksana bernama Batin Lagoi. Batin Lagoi dikenal sebagai pemimpin yang ramah dan adil. Tutur katanya yang lembut membuat masyarakat Suku Laut sangat mencintainya.

Batin Lagoi selalu berkeliling untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Suatu hari, saat berjalan di sepanjang pantai yang dikelilingi oleh semak pandan, ia mendengar suara tangisan bayi dari kejauhan. Ia bertanya-tanya siapa yang meninggalkan bayi di tempat terpencil seperti itu. Namun, karena tak menemukan siapa pun di sekitarnya, Batin Lagoi melanjutkan perjalanannya.

Setelah berjalan beberapa langkah, suara tangisan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas. Penasaran, Batin Lagoi mencari sumber suara tersebut hingga menemukannya di semak pandan. Dengan hati-hati, ia mendekat dan terkejut melihat seorang bayi perempuan yang terbaring di atas daun-daun.

Batin Lagoi heran, bertanya-tanya siapa yang meninggalkan bayi itu di sana. Setelah memastikan tak ada orang lain di sekitar, ia memutuskan untuk membawa bayi tersebut pulang dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Bayi yang diberi nama Putri Pandan Berduri itu akhirnya tumbuh besar dalam asuhan Batin Lagoi, membawa kebahagiaan bagi sang pemimpin yang hidup sendirian.

Waktu berlalu, dan Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan anggun. Ia bukan hanya dikagumi karena kecantikannya, tetapi juga karena sikapnya yang lembut dan tutur kata yang halus, yang membuat masyarakat Suku Laut sangat mencintainya.

Banyak pemuda yang tertarik pada kecantikan Putri Pandan Berduri, namun tidak ada yang sebanding dengannya hingga suatu hari datang seorang pemuda pendatang bernama Jenang Perkasa. Ia sebenarnya adalah putra seorang pemimpin dari Pulau Galang, namun memilih merantau tanpa mengungkap jati dirinya. Setiap hari, ia bekerja sebagai pedagang, berbaur dengan masyarakat biasa.

Sikap Jenang Perkasa yang santun dan bahasa yang halus membuat banyak orang di Pulau Bintan terkagum-kagum. Berita tentang pemuda ini sampai ke telinga Batin Lagoi, yang menjadi penasaran dan ingin mengenalnya lebih dekat. Untuk itu, ia mengadakan jamuan makan malam dan mengundang tokoh-tokoh terkemuka, termasuk Jenang Perkasa.

Selama acara, Batin Lagoi memperhatikan setiap gerak-gerik Jenang Perkasa dan sangat terkesan. Ia merasa Jenang Perkasa cocok untuk dijadikan menantu. Tanpa membuang waktu, Batin Lagoi menawarkan Putri Pandan Berduri untuk dinikahi oleh Jenang Perkasa. Terkejut dengan tawaran tersebut, Jenang Perkasa akhirnya menerima dengan senang hati.

Beberapa hari kemudian, pernikahan besar diadakan, dan seluruh masyarakat Pulau Bintan diundang untuk merayakan pernikahan Putri Pandan Berduri dengan Jenang Perkasa. Kehidupan pernikahan mereka berjalan bahagia, dan tak lama setelahnya, Batin Lagoi yang merasa sudah tua menyerahkan kepemimpinannya kepada Jenang Perkasa.

Sebagai pemimpin baru, Jenang Perkasa berhasil memimpin Pulau Bintan dengan bijaksana, mengikuti jejak ayahnya sebagai pemimpin yang disegani dan dicintai rakyatnya. Ia bahkan menolak untuk kembali ke Pulau Galang ketika dipanggil menggantikan kakaknya sebagai pemimpin di sana.

Dari pernikahannya dengan Putri Pandan Berduri, Jenang Perkasa dikaruniai tiga anak, yang masing-masing menjadi kepala suku di wilayah utara, barat, dan timur Pulau Bintan. Hingga kini, kisah mereka tetap dikenang oleh masyarakat Suku Laut di perairan Pulau Bintan sebagai legenda yang abadi. (DY)

Komentar